Kali ini saya akan mencoba membaca sebuah puisi karya saya sendiri. Semoga menghibur...
Showing posts with label Puisi Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Puisi Kehidupan. Show all posts
Cara Membaca Puisi yang Unik
Dhedi R Ghazali | Sunday, October 29, 2017 | 0
komentar
Kali ini saya akan mencoba membaca sebuah puisi karya saya sendiri. Semoga menghibur...
Label:
Puisi,
Puisi Cinta,
Puisi Kehidupan,
Puisi Romantis
Puisi Dhedi R Ghazali: Aku, Waktu dan Kehidupan
Dhedi R Ghazali | Sunday, October 22, 2017 | 0
komentar
![]() |
| Sumber Gambar: ornamenkehidupan.blogspot.com |
Pesta Jalanan
Pesta jalanan yang tak pernah usai:
Maghrib yang lirih, roda-roda menderu,
berputar terburu-buru. Lampu-lampu
laiknya bintang berjatuhan di aspal-
aspal yang sudah lama saling kenal
Angin yang tak tentu arah, mengibas-
kibaskan daun pohon-pohon kota,
seekor kucing bunting mengendap-endap
menyusup ke dalam pagar rumah tua
Berpasang-pasang kekasih berwajah-
wajah berbeda, tanpa ada tegur sapa
: wajah yang kuning, biru dan perak
Malam menggeliat, melekat pada
jantung kota Yogyakarta
Trotoar pengasingan, 2017
/2/
Malam
Malam yang terjaga: jeruji besi, pintu-
pintu kayu, mata di sudut-sudut ruang
dan cahaya lampu terjatuh di tembok
yang mengelupas.
Malam yang dingin: lorong-lorong sepi,
aroma tembakau, angka-angka di-
dalam kepala, dan rasa
kantuk di mana-mana
Aku melihat bayanganku sendiri
yang kadang di belakang, di depan
dan di sampingku
dan aku senang
Yogya, 2017
/3/
Cerita Usang
Sekali lagi aku jatuh hati
pada bantaran kali
Pada air yang mengalir
melewati celah-celah bebatuan cadas
Gemericiknya berdenyut di kepala
dan cahaya yang hening
menyelinap dari celah daun-daun
Aroma alam : bau tanah, bau kayu-
kayu yang kering dan basah
Seorang pemancing tua dengan batang bambu
Ikan-ikan berkecipak: ekornya merah menyala
tubuhnya mengkilap keemasan
Ada kesabaran yang lesap bersama asap
yang beraroma kemenyan
Aku sekali lagi jatuh cinta
pada pendoa yang takzim bertapa
di atas batu. Ia tak henti-hentinya
berdoa untuk: ikan-ikan kecil
riak-riak di air
dan pemancing tua
Yogya, 2017
/4/
Krah Baju
Pada akhirnya, malam benar-
benar menjadi hantu:
pohon-pohon diam, burung dandang
haus menatap kosong
Ada yang berbisik selirih napas
"Sudahkah kau benarkan krah bajumu?"
Cahaya lampu serupa bayanganmu
malam pecah, segalanya luruh
ke dalam udara. Tak ada yang
perlu aku katakan: kau kudekap;
kau mendekapku dan kau benarkan
krah baju di batang leherku
Kerinduan rebah di udara
tak ada kata, tak ada bahasa
tulang-tulang yang ngilu
Kenangan lahir di sudut kamar
berteriak tanpa suara:
dingin dan hambar
Yogya, 2017
/5/
Sebuah Percakapan
percakapan pohon-pohon randu alas
yang lebih diam dari kebisuan--
bahasa yang tak asing di telinga:
bahasa kesepian yang menelikung senja
tempat tubuhku bersandar dan
membagikan cerita tentang:
seorang anak yang bermain ayunan
di depan nisan tak bernama,
seorang ibu yang menanak kesepian
di belakang bukit tak bertuan
(sajak-sajak paling duka keluar dari dalam gua yang menua)
kelahiran yang tergesa-gesa
kehidupan yang singkat dan lama
kematian yang begitu sabar
(kidung-kidung paling luka keluar bersama helai napas yang berdenyut)
api-api kelahiran, asap-asap kehidupan, abu-abu kematian
menjelma sebuah peti mati tanpa jenazah:
yang diseret-seret di jalan berbatu
menuju pemakaman raja-raja
musim kemarau: pohon-pohon bisu
senja: lampu-lampu kehilangan cahaya
malam: rembulan kuning pucat
percakapan musim, senja dan malam
yang lebih diam dari kebisuan
berbicara tentang: daun-daun gugur,
ranting-ranting tua dan burung hantu
yang hinggap di nisan-nisan
Yogya, 2017
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar serta like fans page kehidupan tanpa batas. Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Kumpulan Puisi Inspiratif
Dhedi R Ghazali | Friday, September 04, 2015 | 0
komentar
Daun Mana yang Akan Jatuh?
Kita tak pernah tahu berapa jatah
umur kita sehingga tak akan pernah mampu menghitung sisa umur yang ada.
Lebih celakanya, seringkali kita angkuh berkata, "Ah, kita masih muda,
umur masih panjang." Kalimat tersebut keluar begitu saja tanpa disadari
bahwa bisa jadi esok hari menjadi hari terakhir di dunia ini.
Ingatlah, manusia tak pernah tahu kapan dan di mana maut akan menjemput.
Tak perduli berapa umurnya sekarang, bukankah daun muda bisa sewaktu-waktu lepas dari tangkainya?
Mari kita sejenak bercermin kepada perjalanan hidup Alm. Ustad Jefri.
Banyak yang sudah tahu sebelum menjadi ustadz, Beliau pernah berada di
lubang hitam yang gelap. Hingga pada akhirnya, kemauan untuk berhijrah
membuahkan hasil. Akan tetapi, tak lama kemudian akhirnya Beliau harus
mengakhiri perjalanan hidup di dunia untuk selamanya. Pertanyaannya,
bagaimana jika Alm. tidak berkemauan dan berikhtiar untuk berhijrah saat
itu? Bagaimana jika dia meninggal saat masih dalam lubang hitam? Semua
bukan semata karena hidayah, tapi lebih dari itu, kemauan, niat dan
usaha untuk berubah menjadi lebih baik adalah awal mulanya.
Tidakkah kita merugi jika waktu yang masih ada, justru terbuang sia-sia? Menunggu waktu tua tiba untuk menebusnya, padahal tidak pernah ada jaminan kalau hidup kita kelak bisa sampai pada usia renta.
Gubuk, 2015
//
Kau dan Angin
tibamu
bagai kabar burung yang dikirimkan angin
di tengah padang ilalang
disaat kemarau berkepanjangan
Tidakkah kita merugi jika waktu yang masih ada, justru terbuang sia-sia? Menunggu waktu tua tiba untuk menebusnya, padahal tidak pernah ada jaminan kalau hidup kita kelak bisa sampai pada usia renta.
Gubuk, 2015
//
Kau dan Angin
tibamu
bagai kabar burung yang dikirimkan angin
di tengah padang ilalang
disaat kemarau berkepanjangan
kau
menyatu dalam tubuh angin
menari-nari di gurun
hanya debu di pelupuk mata
sebagai pertanda kau tiba
Gubuk, 2015
//
Tanah, Kemarau dan Hujan
aku adalah tanah
dan kemarau itu
datang tak tepat waktu
begitu juga hujan yang turun
menghukum tanpa ampun
menyatu dalam tubuh angin
menari-nari di gurun
hanya debu di pelupuk mata
sebagai pertanda kau tiba
Gubuk, 2015
//
Tanah, Kemarau dan Hujan
aku adalah tanah
dan kemarau itu
datang tak tepat waktu
begitu juga hujan yang turun
menghukum tanpa ampun
aku adalah tanah
kau adalah kemarau
kau adalah hujan
dan dimanakah Tuhan?
GubukAksara, 2015
kau adalah kemarau
kau adalah hujan
dan dimanakah Tuhan?
GubukAksara, 2015
Label:
inspirasi,
Puisi Kehidupan
Duka Negeri
Dhedi R Ghazali | Thursday, July 02, 2015 | 0
komentar
Adalah sebuah fakta jika kita mau membuta mata dan hati kita bahwa negara ini sedang dirundung duka. Berbagai masalah silih berganti menghiasi bumi merah putih ini. Ya, benar jika merah putih menjadi warna dalam negeri. Banjir air mata darah di mana-mana sebab berbagai kepentingan pribadi yang menunggangi percaturan politik. Tak elak, masyarakat menjadi korban dan dijadikan batu loncatan atas apa yang dilakukan oleh para pemimpi(n) kita. Putih tulang yang remuk digilas roda-roda kuasa yang berporos pada sumbu kedzaliman menjadikan setiap keringat yang mengucur tak terbalas dengan semsetinya. Ini adalah beberapa puisi kontemporer yang saya ciptakan dan alhamdulillah masuk dalam sebuah buku antologi. Semoga puisi ini dapat menjadi renungan buat para pemimpi(n) tanah kelahiran kita.
Duka Bangsa
m
e
r
a
h
m
e
r
a
h
merah merah merah merah
merah merah merah merah
putih putih putih putih putih
putih putih putih putih putih
p
u
t
i
h
p
u
t
i
h
BUMI PERTIWI
e
r
a
h
m
e
r
a
h
merah merah merah merah
merah merah merah merah
putih putih putih putih putih
putih putih putih putih putih
p
u
t
i
h
p
u
t
i
h
BUMI PERTIWI
Gubuk Aksara, 2015
Negeri Kotoran
di negeriku
air kencing direbutkan
kentut dikejar-kejar
berak dilempar-lempar
namanya juga negeri kotoran
semua kotoran menjadi mainan
dimainkan, direbutkan
ujungnya tangis-tangisan
air kencing direbutkan
kentut dikejar-kejar
berak dilempar-lempar
namanya juga negeri kotoran
semua kotoran menjadi mainan
dimainkan, direbutkan
ujungnya tangis-tangisan
baju-baju kotor setiap hari
emak tak lagi mau mencuci
sebab tak ada air bersih lagi
badan-badan berbau sepanjang waktu
sebab bermain kotoran selalu
mandipun tak ada yang mau
emak tak lagi mau mencuci
sebab tak ada air bersih lagi
badan-badan berbau sepanjang waktu
sebab bermain kotoran selalu
mandipun tak ada yang mau
ini negeri kotoran
banyak orang seperti kotoran
saling lapor saling dilaporkan
yang lapor yang beruang
yang beruang yang menang
yang menang yang kejam
yang kejam yang berbintang
yang berbintang yang jalang
yang jalang ya … kotoran
banyak orang seperti kotoran
saling lapor saling dilaporkan
yang lapor yang beruang
yang beruang yang menang
yang menang yang kejam
yang kejam yang berbintang
yang berbintang yang jalang
yang jalang ya … kotoran
kotoran, oh, kotoran
negeri, oh, negeri
negeriku negeri kotoran
jadinya ya, dibuang-buang
kapan bisa didaur ulang?
negeri, oh, negeri
negeriku negeri kotoran
jadinya ya, dibuang-buang
kapan bisa didaur ulang?
GubukAksara, 2015
Pertiwi
pertiwi diciumi
pertiwi dijamahi
pertiwi ditelanjangi
pertiwi dijilati
pertiwi dicabuli
pertiwi hilang suci
pertiwi tak perawan lagi
pertiwi dijamahi
pertiwi ditelanjangi
pertiwi dijilati
pertiwi dicabuli
pertiwi hilang suci
pertiwi tak perawan lagi
kasihan pertiwi
siapa pertiwi?
bumi pertiwi
siapa pertiwi?
bumi pertiwi
GubukAksara, 2015
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Malam Tanpa Rembulan
Dhedi R Ghazali | Friday, June 19, 2015 | 0
komentar
![]() |
Hampir setengah tahun terakhir penulis disibukkan dengan kegiatan di dunia nyatanya. Selama itu pula, blog ini tidak terjamah sama sekali sehingga tak ada update artikel ataupun puisi. Akhirnya, detik ini penulis mampu kembali membagikan hasil karyanya. Kali ini, saya akan berbagi sebuah puisi yang saya buat saat berada dalam perjalanan menuju kota Yogyakarta. Di tengah perjalanan, banyak terlihat anak muda yang sedang bercengkerama di pinggir jalan, pedagang asongan. pengamen dan banyak lagi yang lain. Terkadang dari situ saya berpikir, ternyata malam benarlah sebuah waktu yang menyembunyikan banyak pertanyaan. Entah kenapa, terkadang hati dan pikiran ini merasa bahwa banyak orang yang lebih suka dengan gemerlap malam padahal hakikatnya malam adalah waktu untuk beristirahat.
Langsung saja, ini adalah puisi yang berjudul "Malam Tanpa Rembulan"
Malam Tanpa Rembulan
malam ini, langit nestapa
gelayut awan kelam
dihiasi sekumpulan gagak hitam...
berputar-putar di atas tumpukan bangkai busuk
selokan becek berbau anyir darah dan nanah
bau pesing kencing gelandangan
mayat-mayat hidup lalu-lalang di sudut-sudut kota
semua menjadi gelap
ketika angin meniup mati lentera-lentera
dan rembulan pucat pasi bersembunyi
tak ingin menjadi saksi atas apa yang terjadi
malam bersumpah
demi setan yang berwajah manusia
demi rembulan yang ketakutan
demi gemintang yang enggan berkedip
sudahilah!!!
berapa banyak lagi bangkai yang diperlukan
agar tumpukannya mencapai langit yang tujuh?
sang raja menari di atas aurora di langit istananya
menyayikan lagu puji-pujian---entah untuk siapa
bersama selir-selir yang telanjang
sesekali bersulang keringat
yang diperas dari budak-budaknya
malam tanpa rembulan
mematikan telinga!
mematikan mata!
mematikan jiwa!
badut-badut di tepian jalan
menarik perhatian lelaki-lelaki perantau
yang baru saja pulang berlayar mengarungi pulau-pulau
bocah-bocah pemuja aspal
dimabuk aroma lem di genggaman
sebagian riang berdendang
dengan gitar tua di tangan
mereka berkata
"Tuhan, jangan Kau hadirkan siang, biarkan malam tanpa rembulan tak berkesudahan!"
GubukAksara, 2015
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Subscribe to:
Posts (Atom)



