Kali ini saya akan mencoba membaca sebuah puisi karya saya sendiri. Semoga menghibur...
Showing posts with label Puisi Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Puisi Kehidupan. Show all posts
Cara Membaca Puisi yang Unik
Dhedi R Ghazali | Sunday, October 29, 2017 | 0
komentar
Kali ini saya akan mencoba membaca sebuah puisi karya saya sendiri. Semoga menghibur...
Label:
Puisi,
Puisi Cinta,
Puisi Kehidupan,
Puisi Romantis
Puisi Dhedi R Ghazali: Aku, Waktu dan Kehidupan
Dhedi R Ghazali | Sunday, October 22, 2017 | 0
komentar
![]() |
| Sumber Gambar: ornamenkehidupan.blogspot.com |
Pesta Jalanan
Pesta jalanan yang tak pernah usai:
Maghrib yang lirih, roda-roda menderu,
berputar terburu-buru. Lampu-lampu
laiknya bintang berjatuhan di aspal-
aspal yang sudah lama saling kenal
Angin yang tak tentu arah, mengibas-
kibaskan daun pohon-pohon kota,
seekor kucing bunting mengendap-endap
menyusup ke dalam pagar rumah tua
Berpasang-pasang kekasih berwajah-
wajah berbeda, tanpa ada tegur sapa
: wajah yang kuning, biru dan perak
Malam menggeliat, melekat pada
jantung kota Yogyakarta
Trotoar pengasingan, 2017
/2/
Malam
Malam yang terjaga: jeruji besi, pintu-
pintu kayu, mata di sudut-sudut ruang
dan cahaya lampu terjatuh di tembok
yang mengelupas.
Malam yang dingin: lorong-lorong sepi,
aroma tembakau, angka-angka di-
dalam kepala, dan rasa
kantuk di mana-mana
Aku melihat bayanganku sendiri
yang kadang di belakang, di depan
dan di sampingku
dan aku senang
Yogya, 2017
/3/
Cerita Usang
Sekali lagi aku jatuh hati
pada bantaran kali
Pada air yang mengalir
melewati celah-celah bebatuan cadas
Gemericiknya berdenyut di kepala
dan cahaya yang hening
menyelinap dari celah daun-daun
Aroma alam : bau tanah, bau kayu-
kayu yang kering dan basah
Seorang pemancing tua dengan batang bambu
Ikan-ikan berkecipak: ekornya merah menyala
tubuhnya mengkilap keemasan
Ada kesabaran yang lesap bersama asap
yang beraroma kemenyan
Aku sekali lagi jatuh cinta
pada pendoa yang takzim bertapa
di atas batu. Ia tak henti-hentinya
berdoa untuk: ikan-ikan kecil
riak-riak di air
dan pemancing tua
Yogya, 2017
/4/
Krah Baju
Pada akhirnya, malam benar-
benar menjadi hantu:
pohon-pohon diam, burung dandang
haus menatap kosong
Ada yang berbisik selirih napas
"Sudahkah kau benarkan krah bajumu?"
Cahaya lampu serupa bayanganmu
malam pecah, segalanya luruh
ke dalam udara. Tak ada yang
perlu aku katakan: kau kudekap;
kau mendekapku dan kau benarkan
krah baju di batang leherku
Kerinduan rebah di udara
tak ada kata, tak ada bahasa
tulang-tulang yang ngilu
Kenangan lahir di sudut kamar
berteriak tanpa suara:
dingin dan hambar
Yogya, 2017
/5/
Sebuah Percakapan
percakapan pohon-pohon randu alas
yang lebih diam dari kebisuan--
bahasa yang tak asing di telinga:
bahasa kesepian yang menelikung senja
tempat tubuhku bersandar dan
membagikan cerita tentang:
seorang anak yang bermain ayunan
di depan nisan tak bernama,
seorang ibu yang menanak kesepian
di belakang bukit tak bertuan
(sajak-sajak paling duka keluar dari dalam gua yang menua)
kelahiran yang tergesa-gesa
kehidupan yang singkat dan lama
kematian yang begitu sabar
(kidung-kidung paling luka keluar bersama helai napas yang berdenyut)
api-api kelahiran, asap-asap kehidupan, abu-abu kematian
menjelma sebuah peti mati tanpa jenazah:
yang diseret-seret di jalan berbatu
menuju pemakaman raja-raja
musim kemarau: pohon-pohon bisu
senja: lampu-lampu kehilangan cahaya
malam: rembulan kuning pucat
percakapan musim, senja dan malam
yang lebih diam dari kebisuan
berbicara tentang: daun-daun gugur,
ranting-ranting tua dan burung hantu
yang hinggap di nisan-nisan
Yogya, 2017
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar serta like fans page kehidupan tanpa batas. Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Kumpulan Puisi Inspiratif
Dhedi R Ghazali | Friday, September 04, 2015 | 0
komentar
Daun Mana yang Akan Jatuh?
Kita tak pernah tahu berapa jatah
umur kita sehingga tak akan pernah mampu menghitung sisa umur yang ada.
Lebih celakanya, seringkali kita angkuh berkata, "Ah, kita masih muda,
umur masih panjang." Kalimat tersebut keluar begitu saja tanpa disadari
bahwa bisa jadi esok hari menjadi hari terakhir di dunia ini.
Ingatlah, manusia tak pernah tahu kapan dan di mana maut akan menjemput.
Tak perduli berapa umurnya sekarang, bukankah daun muda bisa sewaktu-waktu lepas dari tangkainya?
Mari kita sejenak bercermin kepada perjalanan hidup Alm. Ustad Jefri.
Banyak yang sudah tahu sebelum menjadi ustadz, Beliau pernah berada di
lubang hitam yang gelap. Hingga pada akhirnya, kemauan untuk berhijrah
membuahkan hasil. Akan tetapi, tak lama kemudian akhirnya Beliau harus
mengakhiri perjalanan hidup di dunia untuk selamanya. Pertanyaannya,
bagaimana jika Alm. tidak berkemauan dan berikhtiar untuk berhijrah saat
itu? Bagaimana jika dia meninggal saat masih dalam lubang hitam? Semua
bukan semata karena hidayah, tapi lebih dari itu, kemauan, niat dan
usaha untuk berubah menjadi lebih baik adalah awal mulanya.
Tidakkah kita merugi jika waktu yang masih ada, justru terbuang sia-sia? Menunggu waktu tua tiba untuk menebusnya, padahal tidak pernah ada jaminan kalau hidup kita kelak bisa sampai pada usia renta.
Gubuk, 2015
//
Kau dan Angin
tibamu
bagai kabar burung yang dikirimkan angin
di tengah padang ilalang
disaat kemarau berkepanjangan
Tidakkah kita merugi jika waktu yang masih ada, justru terbuang sia-sia? Menunggu waktu tua tiba untuk menebusnya, padahal tidak pernah ada jaminan kalau hidup kita kelak bisa sampai pada usia renta.
Gubuk, 2015
//
Kau dan Angin
tibamu
bagai kabar burung yang dikirimkan angin
di tengah padang ilalang
disaat kemarau berkepanjangan
kau
menyatu dalam tubuh angin
menari-nari di gurun
hanya debu di pelupuk mata
sebagai pertanda kau tiba
Gubuk, 2015
//
Tanah, Kemarau dan Hujan
aku adalah tanah
dan kemarau itu
datang tak tepat waktu
begitu juga hujan yang turun
menghukum tanpa ampun
menyatu dalam tubuh angin
menari-nari di gurun
hanya debu di pelupuk mata
sebagai pertanda kau tiba
Gubuk, 2015
//
Tanah, Kemarau dan Hujan
aku adalah tanah
dan kemarau itu
datang tak tepat waktu
begitu juga hujan yang turun
menghukum tanpa ampun
aku adalah tanah
kau adalah kemarau
kau adalah hujan
dan dimanakah Tuhan?
GubukAksara, 2015
kau adalah kemarau
kau adalah hujan
dan dimanakah Tuhan?
GubukAksara, 2015
Label:
inspirasi,
Puisi Kehidupan
Duka Negeri
Dhedi R Ghazali | Thursday, July 02, 2015 | 0
komentar
Adalah sebuah fakta jika kita mau membuta mata dan hati kita bahwa negara ini sedang dirundung duka. Berbagai masalah silih berganti menghiasi bumi merah putih ini. Ya, benar jika merah putih menjadi warna dalam negeri. Banjir air mata darah di mana-mana sebab berbagai kepentingan pribadi yang menunggangi percaturan politik. Tak elak, masyarakat menjadi korban dan dijadikan batu loncatan atas apa yang dilakukan oleh para pemimpi(n) kita. Putih tulang yang remuk digilas roda-roda kuasa yang berporos pada sumbu kedzaliman menjadikan setiap keringat yang mengucur tak terbalas dengan semsetinya. Ini adalah beberapa puisi kontemporer yang saya ciptakan dan alhamdulillah masuk dalam sebuah buku antologi. Semoga puisi ini dapat menjadi renungan buat para pemimpi(n) tanah kelahiran kita.
Duka Bangsa
m
e
r
a
h
m
e
r
a
h
merah merah merah merah
merah merah merah merah
putih putih putih putih putih
putih putih putih putih putih
p
u
t
i
h
p
u
t
i
h
BUMI PERTIWI
e
r
a
h
m
e
r
a
h
merah merah merah merah
merah merah merah merah
putih putih putih putih putih
putih putih putih putih putih
p
u
t
i
h
p
u
t
i
h
BUMI PERTIWI
Gubuk Aksara, 2015
Negeri Kotoran
di negeriku
air kencing direbutkan
kentut dikejar-kejar
berak dilempar-lempar
namanya juga negeri kotoran
semua kotoran menjadi mainan
dimainkan, direbutkan
ujungnya tangis-tangisan
air kencing direbutkan
kentut dikejar-kejar
berak dilempar-lempar
namanya juga negeri kotoran
semua kotoran menjadi mainan
dimainkan, direbutkan
ujungnya tangis-tangisan
baju-baju kotor setiap hari
emak tak lagi mau mencuci
sebab tak ada air bersih lagi
badan-badan berbau sepanjang waktu
sebab bermain kotoran selalu
mandipun tak ada yang mau
emak tak lagi mau mencuci
sebab tak ada air bersih lagi
badan-badan berbau sepanjang waktu
sebab bermain kotoran selalu
mandipun tak ada yang mau
ini negeri kotoran
banyak orang seperti kotoran
saling lapor saling dilaporkan
yang lapor yang beruang
yang beruang yang menang
yang menang yang kejam
yang kejam yang berbintang
yang berbintang yang jalang
yang jalang ya … kotoran
banyak orang seperti kotoran
saling lapor saling dilaporkan
yang lapor yang beruang
yang beruang yang menang
yang menang yang kejam
yang kejam yang berbintang
yang berbintang yang jalang
yang jalang ya … kotoran
kotoran, oh, kotoran
negeri, oh, negeri
negeriku negeri kotoran
jadinya ya, dibuang-buang
kapan bisa didaur ulang?
negeri, oh, negeri
negeriku negeri kotoran
jadinya ya, dibuang-buang
kapan bisa didaur ulang?
GubukAksara, 2015
Pertiwi
pertiwi diciumi
pertiwi dijamahi
pertiwi ditelanjangi
pertiwi dijilati
pertiwi dicabuli
pertiwi hilang suci
pertiwi tak perawan lagi
pertiwi dijamahi
pertiwi ditelanjangi
pertiwi dijilati
pertiwi dicabuli
pertiwi hilang suci
pertiwi tak perawan lagi
kasihan pertiwi
siapa pertiwi?
bumi pertiwi
siapa pertiwi?
bumi pertiwi
GubukAksara, 2015
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Malam Tanpa Rembulan
Dhedi R Ghazali | Friday, June 19, 2015 | 0
komentar
![]() |
Hampir setengah tahun terakhir penulis disibukkan dengan kegiatan di dunia nyatanya. Selama itu pula, blog ini tidak terjamah sama sekali sehingga tak ada update artikel ataupun puisi. Akhirnya, detik ini penulis mampu kembali membagikan hasil karyanya. Kali ini, saya akan berbagi sebuah puisi yang saya buat saat berada dalam perjalanan menuju kota Yogyakarta. Di tengah perjalanan, banyak terlihat anak muda yang sedang bercengkerama di pinggir jalan, pedagang asongan. pengamen dan banyak lagi yang lain. Terkadang dari situ saya berpikir, ternyata malam benarlah sebuah waktu yang menyembunyikan banyak pertanyaan. Entah kenapa, terkadang hati dan pikiran ini merasa bahwa banyak orang yang lebih suka dengan gemerlap malam padahal hakikatnya malam adalah waktu untuk beristirahat.
Langsung saja, ini adalah puisi yang berjudul "Malam Tanpa Rembulan"
Malam Tanpa Rembulan
malam ini, langit nestapa
gelayut awan kelam
dihiasi sekumpulan gagak hitam...
berputar-putar di atas tumpukan bangkai busuk
selokan becek berbau anyir darah dan nanah
bau pesing kencing gelandangan
mayat-mayat hidup lalu-lalang di sudut-sudut kota
semua menjadi gelap
ketika angin meniup mati lentera-lentera
dan rembulan pucat pasi bersembunyi
tak ingin menjadi saksi atas apa yang terjadi
malam bersumpah
demi setan yang berwajah manusia
demi rembulan yang ketakutan
demi gemintang yang enggan berkedip
sudahilah!!!
berapa banyak lagi bangkai yang diperlukan
agar tumpukannya mencapai langit yang tujuh?
sang raja menari di atas aurora di langit istananya
menyayikan lagu puji-pujian---entah untuk siapa
bersama selir-selir yang telanjang
sesekali bersulang keringat
yang diperas dari budak-budaknya
malam tanpa rembulan
mematikan telinga!
mematikan mata!
mematikan jiwa!
badut-badut di tepian jalan
menarik perhatian lelaki-lelaki perantau
yang baru saja pulang berlayar mengarungi pulau-pulau
bocah-bocah pemuja aspal
dimabuk aroma lem di genggaman
sebagian riang berdendang
dengan gitar tua di tangan
mereka berkata
"Tuhan, jangan Kau hadirkan siang, biarkan malam tanpa rembulan tak berkesudahan!"
GubukAksara, 2015
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Puisi Kehidupan ( Dibantai Keadaan )
Dhedi R Ghazali | Saturday, May 03, 2014 | 0
komentar
Dibantai Keadaan
Oleh: Dhedi R Ghazali
Mampus aku!!!
Denting hinaan terdengar
semerdu suara peluru-peluru,
berhamburan di medan perang
Jiwaku merenung di sudut kekalutan
diterkam nuansa mencekam...
Mungkinkah aku bertahan?
Entahlah...
suasana ini telanjangi hati
Hingga terlihat jelas
lebam biru menyelimutinya
Begitu terlihat pun berbau busuk
membangkailah sudah,
Berdarah, bernanah
; mampus sudah!
Yogya, 06 April 2014
Oleh: Dhedi R Ghazali
Mampus aku!!!
Denting hinaan terdengar
semerdu suara peluru-peluru,
berhamburan di medan perang
Jiwaku merenung di sudut kekalutan
diterkam nuansa mencekam...
Mungkinkah aku bertahan?
Entahlah...
suasana ini telanjangi hati
Hingga terlihat jelas
lebam biru menyelimutinya
Begitu terlihat pun berbau busuk
membangkailah sudah,
Berdarah, bernanah
; mampus sudah!
Yogya, 06 April 2014
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Puisi Dari Balik Jeruji Besi
Dhedi R Ghazali | Monday, April 14, 2014 | 0
komentar
Di Balik Jeruji Besi
Oleh:Dhedi R Ghazali
Di balik jeruji besi ini
Kisah usam coba dia hapus
dengan waktu yang dia tebus
Membakar hangus kekhilafan yang sempat memberangus
Di balik jeruji besi ini
Lembar noda hitam coba dia putihkan
Dengan kurungan penebusan
Yogya, 12 Juli 2013
Doa di Balik Penjara
Oleh:Dhedi R Ghazali
Tuhan,
Jika memang ini jalan menuju Nirwana
Aku relakan helaian napasku di dalam penjara
Biarkan orang berkata apa
Biarkan mereka tertawa sepuasnya
Tak mengapa mereka menganngapku hina
Asal Engkau lebur semua dosa
Jadikan hina menjadi mulia
Yogya, 05 Nofember 2013
Aku Malu
Oleh: Dhedi R Ghazali
Aku malu
Pada hamba-hambaMu di balik jeruji besi itu
Aku bahkan merasa lebih hina dari mereka
dari mereka para penikmat dinding-dinding penjara
Setiap 5 waktu mereka menemui-Mu
Selalu saja dalam barisan-barisan
Sedangkan aku kerap sendirian
Rela mereka sisakan sepertiga malam
Sedang sepertiga malamku hanyut dalam mimpiku
Ikhlas mereka selipkan waktu kala fajar
Sedang fajarku termakan kesibukanku
Tak henti mereka panjatkan ayat-ayat suci
Sedang ayat-ayat suci ku tersungkur di lemari-lemari berdebu
Sungguh aku malu!!!
Yogya, 12 Desember 2013
Senandung Penikmat Penjara
Oleh: Dhedi R Ghazali
Di tempat ini
Dalam lingkaran sepi di balik jeruji besi
Buah dari kebusukan yang kulakukan
Tempat penebusan atas segala kekhilafan
Di tempat ini
Tak kulihat bintang di kegelapan malam
Hanya atap-atap penyesalan yang bertaburan
Tak kulihat purnama yang memanja
Hanya tarian dosa yang tertawa
Tak kudengar ocehan-ocehan penuh kebebasan
Hanya siulan kenestapaan yang memuakkan
Dan kini itu semua membuatku terbiasa
Menjelma menjadi teman setia di balik penjara
Yogya, 17 Oktober 2013
Bosan
Oleh: Dhedi R Ghazali
Dari pagi, siang hingga malam menjelang
Dari detik, menit, jam, hari hingga bulan saling menggantikan
di balik dinding-dinding penebusan
Dan aku pun mulai bosan
Yogya, 19 Desember 2013
Di Balik Penjara
Oleh:Dhedi R Ghazali
Dengarkanlah senandung insan terkurung
Termenung dalam pangkuan hukum
Ling-lung limbung tak berujung
Embun pagi tak menyapa
Terhalang dinding-dinding sekeras baja
Di balik penjara
Aku belajar untuk mengerti agama
Di balik penjara
Aku mengerti akan pahala dan dosa
Di balik penjara
Aku pahami kasih sayang orang tua
Di balik penjara
Aku temui kuasa-Nya
Dan di balik penjara
Aku dapatkan semua
yang tak kudapatkan dalam hidupku sebelumnya
Yogya, 05 Februari 2014
Muhasabah
Ragaku mungkin terpenjara
Namun batinku bebas menemui-Nya
Jeruji ini mungkin merantai langkah kaki
Akan tetapi jejak Illahi masih bisa ku ikuti
Dan di balik tempat ini
Kuperbaiki yang memang harus kuperbaiki
Tak peduli dengan kerasnya jeruji besi
Akan kugelar sajadah panjang ini
Untuk menemui sang Illahi Rabbi
Yogya, 07 Maret 2014
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Kumpulan Puisi Kehidupan Part II ( Menembus Ruang dan Waktu )
Dhedi R Ghazali | Saturday, March 22, 2014 | 0
komentar
Tidak akan pernah habis kata-kata untuk membahas kehidupan di dunia. Berbagai warna dan tema senantiasa tercipta dari rajutan kata-kata para pujangga. Dan ternyata tak hanya tentang cinta yang bisa bersabda lewat kata namun kehidupanpun menyimpan banyak perkataan yang harus diungkapkan agar terdengar dan dirasakan oleh semua insan. Ini adalah beberapa kumpulan puisi kehidupan yang telah saya ciptakan. Dengan berbagai tema yang berbeda, saya mencoba untuk merangkai semua itu dalam keindahan karya sastra. Meskipun saya masih baru dalam dunia sastra, semoga saja rangkaian kata-kata ini bisa memberikan inspirasi dan motivasi bagi para pembaca.
AKU BUKAN ANAK HARAM
Aku adalah buah jalan yang terasingkan
Dipinggirkan dari persaingan kehidupan yang kejam
Aku adalah anak dari emak
Tercipta oleh tapak-tapak tak berjejak
Janganlah salahkan kelahiranku
Salahkanlah ibu dan bapak-bapakku...
Yang telah bersenggama di luar batas agama
Yang telah bercinta atas nama suka sama suka
Aku tegaskan!!
Aku bukanlah ANAK HARAM
Aku sama seperti kalian
Dilahirkan atas kehendak Tuhan
Meski memang dari buah tangan perzinaan
Yogya, 19 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
?
Dimana orasi-orasimu?
Jangan tanyakan aku
Aku sendiri tak tahu
Tanyakan saja pada kata-kata
Yang menemani senja yang tengah berduka
Bersama jelata yang dianiaya majikannya
Yogya, 18 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
TAMAT
Hilang sudah kata-kata
Sirna tak tersisa!!!
Hanya tertinggal nama...
Yogya, 18 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
CERMINKU BERDEBU
Cerminku berdebu
Cerminku buram
Penuh dengan kotoran-kotoran
Sedangkan aku masih saja bercermin padanya
Muak aku dengan aku yang nampak di cermin itu
Dengan senyum menghina penuh nista
Cerminku masih berdebu
Cerminku masih buram
Belum bisa kubersihkan
Yogya, 14 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
TIDAKKAH KAU?
Tak sampaikah kepadamu?
Tentang anak-anak tak berbapak dan tak beremak
Tentang mereka yang tergeletak dan terinjak
Tentang mereka yang tak mampu berteriak
Tentang mereka yang mendadak tersentak
Dibentak rompak-rompak juga pembajak-pembajak pajak
Tidakkah kau lihat?...
Tentang bapak-bapak yang tak dapat bergerak
Tentang emak-emak yang tak dapat memasak
Tentang otak-otak yang sesak teriak-teriak serak
Tidakkah kau dahaga?
Akan senyum sapa mereka
Tentang canda tawa mereka
Yang direnggut keadaan carut marut
Merunduk takut hanya termanggut-manggut
--------------------------
Sstttttt...
Jangan berisik, takut mereka terusik
Karna hanya dalam lelapnya mereka bisa temukan bahagia
Karna hanya dalam mimpi mereka bisa menari
Yogya, 18 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
Aku adalah buah jalan yang terasingkan
Dipinggirkan dari persaingan kehidupan yang kejam
Aku adalah anak dari emak
Tercipta oleh tapak-tapak tak berjejak
Janganlah salahkan kelahiranku
Salahkanlah ibu dan bapak-bapakku...
Yang telah bersenggama di luar batas agama
Yang telah bercinta atas nama suka sama suka
Aku tegaskan!!
Aku bukanlah ANAK HARAM
Aku sama seperti kalian
Dilahirkan atas kehendak Tuhan
Meski memang dari buah tangan perzinaan
Yogya, 19 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
?
Dimana orasi-orasimu?
Jangan tanyakan aku
Aku sendiri tak tahu
Tanyakan saja pada kata-kata
Yang menemani senja yang tengah berduka
Bersama jelata yang dianiaya majikannya
Yogya, 18 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
TAMAT
Hilang sudah kata-kata
Sirna tak tersisa!!!
Hanya tertinggal nama...
Yogya, 18 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
CERMINKU BERDEBU
Cerminku berdebu
Cerminku buram
Penuh dengan kotoran-kotoran
Sedangkan aku masih saja bercermin padanya
Muak aku dengan aku yang nampak di cermin itu
Dengan senyum menghina penuh nista
Cerminku masih berdebu
Cerminku masih buram
Belum bisa kubersihkan
Yogya, 14 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
TIDAKKAH KAU?
Tak sampaikah kepadamu?
Tentang anak-anak tak berbapak dan tak beremak
Tentang mereka yang tergeletak dan terinjak
Tentang mereka yang tak mampu berteriak
Tentang mereka yang mendadak tersentak
Dibentak rompak-rompak juga pembajak-pembajak pajak
Tidakkah kau lihat?...
Tentang bapak-bapak yang tak dapat bergerak
Tentang emak-emak yang tak dapat memasak
Tentang otak-otak yang sesak teriak-teriak serak
Tidakkah kau dahaga?
Akan senyum sapa mereka
Tentang canda tawa mereka
Yang direnggut keadaan carut marut
Merunduk takut hanya termanggut-manggut
--------------------------
Sstttttt...
Jangan berisik, takut mereka terusik
Karna hanya dalam lelapnya mereka bisa temukan bahagia
Karna hanya dalam mimpi mereka bisa menari
Yogya, 18 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Puisi Untuk Ayah
Dhedi R Ghazali | Friday, March 21, 2014 | 4komentar
Ayah... Adalah sosok yang begitu berharga dan berjasa dalam kehidupan kita. Dia lah seseorang yang membanting tulang demi kehidupan keluarga. Segalanya dia lakukan demi masa depan anak-anaknya. Tiada kata yang bisa menggantikan perjuangan seorang ayah demi anak dan keluarganya. Namun kali ini saya akan memberikan beberapa tatanan kata yang khusus saya persembahkan buat para Ayah di dunia ini. Buat seorang lelaki yang tiada henti mencari dan terus mencari nafkah. Yang tiada lelah melangkah meski kadang goyah. Seorang sosok inspiratif dibalik keberhasilan anak-ankanya. Inilah persembahan dari saya untuk seluruh Ayah di dunia. Meskipun kata-kata ini sederhana dan tidak terlalu berharga, namun setidaknya lewat untaian kata ini saya ingin mengabadikan kegigihan seorang Ayah demi anak dan keluarga tercintanya.
AYAH PART I
Ayah...
Kau terus berjalan ribuan mill
Tak jarang tubuhmu menggigil
Darah dan nanah tercurah
Demi anak-anakmu menikmati bangku sekolah
Ayah...
Jutaan rintangan yang panjang membentang
Kau terjang dengan kepalan tangan telanjang
Demi sebuah masa depan anak-anakmu tersayang
Masa depanmu tak lagi kau pikirkan
Ayah...
Benturan dan hempasan bungkukkan rusuk-rusukmu
Sengaatan mentari membakar tubuh legammu
Hingga terlihat jelas tubuh rentamu
Melemah dimakan sang waktu yang terus berlalu
Ayah...
Setiap tuturmu mengajakku menuju kebaikan
Setiap kekesalan yang kau lontarkan membawaku kedalam perbaikan
Hingga tak jarang airmata kau deraikan
Melihat anak-anakmu melawan kerasnya kehidupan
Ayah...
Dalam guratan pena ini
Yang tak sebanding dengan semua yang kau beri
Ku pahatkan cerita tentangmu
Ku tuliskan jejak-jejak perjuanganmu
Ku goreskan setiap jengkal langkahmu
Agar terbaca oleh anak cucumu
Yogya, 14 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
AYAH PART II
Ayah...
Tanpa lelah kau berjalan
Di tepian jurang-jurang kesederhanaan
1 mili mendekati kemiskinan
Masih saja kau tak lelah mengejar nafkah
Terkadang langkahmu goyah
Kakimu berlumur darah dan nanah
Namun "demi nafkah" kau tetap tabah melangkah
Ayah...
Guratan tanggung jawab terpahat di setiap urat dalam tubuhmu
Mengalir bersama aliran darahmu
Melebur satu dalam setiap jengkal langkahmu
Jejak-jejak kau tapak demi keluarga dan anak
Nafasmu tak jarang tersengal bahkan sesak
Namun tiada keluh kesah di tuturmu
Dengan teguh kau tetap tapaki jalan itu
Aku, Anakmu....
Hanya mampu memapahmu dengan doa-doaku
Yang akan senantiasa menemani perjalananmu
Menembus ruang dan waktu demi keluargamu
Hingga di penghujung usiamu
Yogya, 14 Maret 2014
Dhedi R Ghazali
Jika menurut kalian, artikel ini
bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga
Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah
membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar serta like fans page
kehidupan tanpa batas. Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala
yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Senandung Anak Jalanan Part II
Dhedi R Ghazali | Saturday, March 01, 2014 | 1komentar
Kehidupan jalanan adalah sebuah kehidupan yang keras. Butuh kucuran keringat untuk mendapatkan uang demi mengganjal perut keroncongan. Mungkin sering kita melihat banyak anak jalanan yang bergelut dengan kegetiran kehidupan di luar sana. Sungguh ironi yang menyayat-nyayat hati ketika anak-anak seumuran mereka harus berjibaku dengan kerasnya kehidupan jalanan. Harusnya hari-hari mereka diisi dengan bersekolah dan bermain dengan teman sebayanya. Tapi apa daya, ternyata takdir berkata lain. Ini adalah puisi yang saya ciptakan dimana puisi ini tercipta dari rasa keprihatinan saya terhadap kehidupan anak jalanan. Di pangkuan purnama yang memucat aku didekap senyap.
Merayap-rayap kesunyian membelaiku.
Suara binatang malam pun mengolok-olokku dengan ocehan tololnya.
Hingga aku dan orang-orang sekaumku
Melapuk dalam keadaan busuk ini
Tak cukup itu,
Lemah kami memapah resah yang membuncah
hingga emosi membakar kesabaran kami
Dan aku juga orang-orang sebangsaku
menggila dalam ketidakpastian makna sebuah keadilan
Inilah aku bangkai yang setengah hidup
menghirup bau busuk bangkai-bangkai orang-orang sekaumku.
Yang tengah hidup di ambang kemusnahan moral,
berdiri di atas duri-duri kecongkakkan orang-orang besar,
dibiarkan dalam comberan kefakiran yang semakin edan
diterlantarkan di jalanan, tidur di emperan pertokoan dan sebagian di bawah naungan kolong jembatan
Inilah senandungku dan orang sekaumku
yang berbaju lusuh, tubuh dekil pakaian compang-camping
pincang berjalan menyelusuri jalan
mengais recehan demi sesuap makan
digilas roda-roda kezaliman.
Karena kami adalah Anak Jalanan.
Oh Tuhanku
Hari-hariku tak seindah hari-hari bidadari yang menjual harga diri
pagi-pagiku tak sesejuk pagi-pagi pejabat-pejabat tinggi berkorupsi
siang-siangku tak secerah siang-siang orang-orang berkecukupan
dan malam-malamku tak segemerlap malam-malam pegawai kantoran.
Lalu apa yang kami dapat?
Yang kami dapat hanya harap-harap terlelap dalam pekat
yang tertidur pulas entah sampai kapan,
mungkin sampai kami menemui indah kematian!!!
Bertahun-tahun senandung kami tak terdengar
parau senandung ini ditelan janji-janji tak tertepati.
Ilusi janji-janji untuk membeli suara Kami
Arrghhh sudahlah..
Ini hanyalah bualanku dan orang-orang sekaumku.
Sebatas senandung yang tak semerdu kicauan burung
terkungkung dalam murung yang tiada berujung
Yogya, 25 Februari 2014
Dhedi R Ghazali
Jika menurut kalian, artikel ini
bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga
Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah
membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar serta like fans page
kehidupan tanpa batas. Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala
yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Kumpulan Puisi Tentang Bencana
Dhedi R Ghazali | Saturday, February 15, 2014 | 0
komentar
Kali ini saya akan menyajikan beberapa puisi dengan tema bencana. Mengingat beberapa bulan diawal tahun 2014 ini begitu banyak bencana yang terjadi di Indonesia. Mulai banjir, gempa bumi dan yang terakhir adalah gunung kelud yang meletus. Dari fakta ini rasanya saya tertarik untuk membuat beberapa puisi pendek bertemakan bencana. Semoga puisi ini dapat memberikan manfaat pada pembaca semua. Aamiin
B E N C A N A
Bencana menyapa
Dengan senyum penuh luka
Memeluk erat keramahan alam
Tak dilepas hingga alam penuh keheningan
Mungkin Tuhan tak suka
Pada segala tata cara manusia
Tata cara berbicara !!
Tata cara berbusana !!
Tata cara bercengkrama !!
Dan segala tata cara tak selaras agama !!
Tapi entah . . .
Ada saja mulut membantah
Dengan mudah berucap lidah
Manusia tak "SALAH"
KELUD " NJEBLUK "
Gunung kelud berubah wajah
Marah-marah menjulur lidah merah
Berpijar-pijar terlihat sangar
Jiwa-jiwa terbakar dituntut bersabar
Tuhan tunjukkan kekuatan
Lewat kelud yang tengah bosan
Melihat insan-insan dalam comberan kemaksiatan
Tak segera mengingat Tuhan
LINDU ( GEMPA )
Berkabar siar bumi bergetar
Merindu pada lindu pembawa pilu
Tuhan berpesan
Pesan Rindu lewat Lindu
Kepada aku, kamu juga kalian
Agar kita tersadar
Bumi bergetar iman dipertanyakan . .
Jika menurut kalian, artikel ini
bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga
Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah
membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar serta like fans page
kehidupan tanpa batas. Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala
yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Indonesiaku Sayang Indonesiaku Malang
Dhedi R Ghazali | Wednesday, February 05, 2014 | 1komentar
Diatas gunung
Melihat Sang Garuda terbang linglung
Keduanya sama-sama bingung
Ibu pertiwi sedang berduka
Mengais-ngais mencari Pancasila
Yang hilang entah kemana
Sang Garuda terbang
Mengejar undang-undang
Yang hilang diterbangkan Topan
Sedang para petinggi negri sebagian tak peduli
Sebagian lagi mendadak jadi selebriti
Yang lain korupsi
Sebagian Rakyat menjerit ketidakadilan melilit
Sebagian terdiam menahan lapar
Sebagian lagi terbuang ditengah kemiskinan
Yang lain berjuang mencari pekerjaan
Ibu Pertiwi sedang tak berdaya
Sang Garuda tak lagi busung dadanya
Dan mereka berduka
Meratap bersama diatas sana
Yogya, 03 02 2014
Melihat Sang Garuda terbang linglung
Keduanya sama-sama bingung
Ibu pertiwi sedang berduka
Mengais-ngais mencari Pancasila
Yang hilang entah kemana
Sang Garuda terbang
Mengejar undang-undang
Yang hilang diterbangkan Topan
Sedang para petinggi negri sebagian tak peduli
Sebagian lagi mendadak jadi selebriti
Yang lain korupsi
Sebagian Rakyat menjerit ketidakadilan melilit
Sebagian terdiam menahan lapar
Sebagian lagi terbuang ditengah kemiskinan
Yang lain berjuang mencari pekerjaan
Ibu Pertiwi sedang tak berdaya
Sang Garuda tak lagi busung dadanya
Dan mereka berduka
Meratap bersama diatas sana
Yogya, 03 02 2014
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Belum Ada Judul
Dhedi R Ghazali | Friday, January 24, 2014 | 2komentar
Ini adalah puisi yang saya ciptakan namun belum mendapatka judul yang cocok untuk puisi-puisi tersebut. Jika ada yang sedang membaca silahkan merekomendasikan judul yang tepat untuk masing-masing puisi tersebut.Silahkan tulis dikomentar..
Dalam lelah raga goyah
Kayu lapuk memapah resah
Tubuh renta ibu tua
Ditengah keramaian kota
Sedangkan . .
Lalu lalang mewah kendaraan
Berlalu bak angin lalu
Tak melihat pilu sang ibu
Dan dalam gengaman sang waktu
Sang Ibu tetap begitu
Menjual koran digenggaman
Berimbalkan uang recehan
Yogya, 23 Januari 2013
Dhedi R Ghazali
Wajah bengis pengemis-pengemis gadis
Berbaris-baris menatap sadis
Iblis meringis
Gerimis tipis terlihat tangis
Terlukis tragis berlapis-lapis
Kehidupan gadis metropolis
Yogya, 23 Januari 2013
Dhedi R Ghazali
Sepeda tua ditengah kota
Tua renta pemiliknya
Mengayuh tiada peluh
Kaki-kaki mulai melepuh
Roda terus berputar
Menggilas keluh dan kesah
Tanpa arah sedikit resah
Keringat mulai membasah
Tubuh renta diatas sepeda tua
Ditengah kota menjelma desa
Dengan canda dan tawa
Tubuh renta mengayuhnya
Hingga dipenghujung senja
Yogya, 23 Januari 2013
Dhedi R Ghazali
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Puisi Kehidupan Part 1 ( Wajah Indonesiaku )
Dhedi R Ghazali | Sunday, January 12, 2014 | 0
komentar
![]() |
| Add caption |
Ini adalah kumpulan puisi tentang kehidupan. Kumpulan puisi yang bertemakan " Wajah Indoseia ". Puisi ini saya ciptakan dari berbagai ketidakadilan ditengah masyarakat dinegara tercinta ini. Wajah Indonesia serupa wajah penuh coretan kelam yang sudah waktunya untuk dihapuskan. Semoga puisi ini bisa memberikan sedikit gambaran untuk menggugah nurani dan fikir kita akan nasib anak cucu kita kelak yang tentunya masih akan singgah di Indonesia ini.
SENANDUNG PARA JELATA
Kami singgah dinegeri antah berantah
Tempat dimana tahta jadi raja
Harta jadi kuasa
Dan kami . .
Para Jelata jadi tumbalnya
Negeri dimana banyak politikus-politikus
Yang memang seperti tikus
Tikus-tikus yang rakus
Dinegari ini semua bisa dibeli
Segala produksi, mimpi, hati dan harga diri
Kami para jelata
Hidup diambang peradaban tak bermoral
Tergilas oleh roda-roda kekuasaan
Hingga remuk tak berbentuk
Kami para jelata
Dipaksa untuk tetap jadi jelata
Dijadikan tumbal juga alasan
Untuk sebuah tahayul keadilan dan kesejahteraan
GORESAN PERBEDAAN
Kulihat si tua dengan gerobak sampahnya
Si Kecil dengan gitar mungil
Si Jalang dengan muka malang
Berjalan diantara megah perkantoran
Terhimpit oleh elit perumahan
Dan semakin terjepit mewah kendaraan
Goresan tinta perbedaan
Yang jelas menggambarkan ketidakadilan
Di tengah compang camping catur perpolitikan
CELOTEH ANAK JALANAN
Anak Jalanan
Generasi Masa depan
Yang terbentur kerasnya kehidupan
Mutiara berharga penerus bangsa
Yang teraniaya penguasanya
Anak jalanan
Mengemis, mengamen, mengorek sampah
Jauh dari bangku sekolah
Dituntut untuk berlutut
Tak sedkitpun mampu menuntut
Dibobroknya pemerintahan yang semakin akut
Anak Jalanan
Berceloteh tentang suram masa depan
Tentang kesakitan kehidupan
Juga "haramnya” kemapanan
NYAYIAN SUMBANG KEHIDUPAN
Nyayian sumbang kehidupan
Menyeruak ditelinga
Menohok dihati
Menggugah nurani
Samar terdengar
Ditengah hiruk pikuk carut marut pemerintahan
Tangisan ribuan orang pinggiran
Jeritan jutaan pengangguran
Nyayian sumbang kehidupan
Semakin terdengar membosankan
Tak kunjung behenti
Palah semakin menjadi
===========================================================================Jika
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk
teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak
Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan
komentar. Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah
dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas
kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan
kebaikan itu.” (HR Muslim)
Bergabunglah dengan fans pages fb "
Kehidupan Tanpa Batas ", follow juga ya . . hihihi ..
By : Dhedi R Ghazali
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Kumpulan Puisi Kehidupan
Dhedi R Ghazali | Monday, January 06, 2014 | 6komentar
Ini adalah beberapa puisi kehidupan. Puisi tentang kehidupan yang tercipta dari sebuah fakta yang ada. Kumpulan puisi yang terisnpirasi ketika saya menyelusuri kehidupan kota yogyakarta.
TERUS BERJALAN
Berjalan menelusuri kehidupan
Diatas kerikil-kerikil tajam
Menusuk kaki perih
Ribuan rintang menghadang
Disetiap jalan yang dilewati
Namun, tak mungkin berhenti
Angan masih jauh disana
Belum terlihat dipelupuk mata
Kaki mulai goyah
Namun, tak mungkin menyerah
Asa dan cita masih terlalu jauh
Untuk direngkuh dan digenggam erat
Dan pada akhirnya
Mereka akan terus berjalan
Menelusuri setiap lorong kehidupan
Hingga datangnya kematian
PENGAMEN YOGYA
Mentari pagi menyentuh kulitnya
Silaukan mata
Membawanya pergi dari dunia fana
Dan dia mulai beranjak dari mimpinya
Menuju kehidupan nyata
Diambilnya gitar lalu dia berjalan
Menuju keramaian
Lalu dia bernyanyi menyambut pagi
Bersama gitar yang dia bawa
Dia mainkan dan mendendangkan
Lantunan perjalanan kehidupan
Menghasilkan sebuah nada penuh makna
Sang Pengamen Kota Yogya
SI RUDI TUKANG SEMIR
Si Rudi tukang semir jalanan
Berjalan di depan perkantoran
Jajakan jasa kilapkan sepatu
Hingga tengah hari
Tiada orang yang peduli
Terdiam Si Rudi
Dengan kedua tangan memegang kepala
Kulihat sedikit teteskan air mata
Kepalanya mulai menengadah keatas
Terasa terik siang yang semakin panas
Dan dia mulai beranjak
Dengan langkah tegap
Dia tantang dunia
Yakin dan percaya
Tuhan Akan berikan Jalan kepadanya
TAK SEHARUSNYA MEREKA
Lihat diseberang jalan itu
Dan lihat anak-anak kecil itu . .
Tubuhnya dekil memainkan gitar kecil dengan tangannya yang mungil . .
Suaranya sumbang mungkin bergelut dengan lapar . .
Atau karena belum makan . .
Akh sama saja tak ada beda . .
Tapi bukan itu yang kumaksud . .
Buka mata kalian . .
Mereka sedang berada ditepi jalan . .
Bergelut dengan debu dan asap kendaraan yang lalu lalang . .
Berkelahi dengan panas matahari . .
Tapi yang kulihat tiada sedikitpun keluh dalam hati . .
Kalian tahu apa yang mereka cari?
Aku jawab mereka cari sesuap nasi . .
Ya, mereka cari sesuap nasi
Dan hari demi hari seperti itu
Tiada pernah berbeda tetap slalu sama. .
Sungguh ironi . .
Aku tak mengerti mengapa mereka ditepi jalan ini . .
Harusnya saat ini mereka barmain ditaman . .
Bermain ayunan . .
Bukan lalu lalang ditepi jalan . .
Aku bertanya pada kalian?
Adilkah ini menurut kalian?
Mereka adalah berlian yang terlupakan . .
Sebuah masa depan yang terbentur kerasnya kehidupan . .
Baca Juga :
Puisi Jatuh Cinta
Puisi Patah Hati
Puisi Untuk Ibu
===========================================================================
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar. Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Bergabunglah dengan fans pages fb " Kehidupan Tanpa Batas ", follow juga ya . . hihihi ..
By : Dhedi R Ghazali
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Puisi Untuk Ibu
Dhedi R Ghazali | Saturday, December 21, 2013 | 0
komentar
Ibu . . Adalah sosok yang sangat berjasa dalam kehidupan kita. Segalanya telah diberikan olehnya termasuk ketika menaruhkan nyawanya untuk melahirkan kita didunia ini. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, Beliau mencurahkan segala tenaga dan upaya demi membesarkan anak-anak tercinta. Seorang Ibu tak kenal lelah terus melangkahkan kaki demi sang buah hati. Tiada kata tidak harta yang bisa menggantikan semua yang telah diberikan olehnya kepada kita. Setiap deti, setiap helai nafas dalam jengkal hidupnya dia curahkan untuk kita. Senang, duka, bahagia, nestapa, canda dan air mata slalu saja dia menemani dengan setia. Tanpa pamrih dan meminta imbalan sedikitpun seorang ibu tulus ikhlas memberikan segalanya. Lalu lantas apa yang telah bisa kita berikan kepada beliau ?? Ini adalah beberapa puisi yang saya persembahkan untuk para Ibu didunia, ungkapan curahan perasaan buat yang masih ditemani ibunya ataupun yang telah ditinggal ibunya tiada :
Senandung Sang Anak
Senandung Sang Anak
Dibatas pandang terlihat samar
Seraut wajah suram
Bersandar ditepian kubur
Membawa sepucuk mawar merah
Diletakkannya mawar itu diatas gundukan tanah
Yang terlihat masih basah
Tangannya menengadah
Terlihat begitu kecil mungil
Seorang anak kecil memanggil nama ibunya
Yang baru saja tiada
Dipelukknya nisan
Diciuminya seolah mencium kening sang ibu
Tak lama petang mulai datang
Dan anak itu beranjak melangkah
Dengan langkah goyah
Dia berucap “ Selamat jalan ibu, semoga surga jadi tempat terakhirmu “
Ibu Sang Bidadariku
Teruntukmu Ibu
Bidadriku yang tlah melahirkanku
Yang selalu menitikan airmata kala aku terluka
Dan lalu membelai rambutku dengan tulus kasihmu
Teruntukmu Ibu
Sang bidadari yang tiada letih
Memberikan jutaan nasihat
Sejuta semangat dengan cucuran keringat
Teruntukmu Ibu
Sang bidadari tanpa sayap
Yang mampu mebawaku terbang
Melintasi kehidupan dengan penuh kasih sayang
Teruntukmu Ibu
Bidadari kehidupannku
Begitu banyak arti yang kau tunjukkan
Namun sedikit yang tlah bisa aku berikan
Tapi tak pernah surutkan kepedulian yang slalu kau berikan
Teruntukmu Ibu
Dari aku anakmu . . .
Termaafku untukmu
Atas segala khilafku
Segala laku yang menjatuhkan air matamu
Segala luka yang membuat sesak didada
Dan semua yang tlah membuatmu kecewa
Tak akan aku ulangi semua ..
Sungguh hanya kau bidadariku
Yang slalu melengkapi kehidupanku
Hingga kelak kau menjadi bidadari surgaku
Menemaniku menikmati indahnya surga itu
Teruntukmu Ibu
Jauh sudah langkahmu Ibu
Menemani langkahku
Derai air mata juga tawa bahagia
Telah kulihat dari paras ayumu Ibu
Tiada hari tanpa kasihmu
Setiap detik waktu berlalu
Engkau slalu ada untukku
Disetiap sepertiga malam
Ketika Tangan Tuhan
Membuka lembaran kehidupan secara berlahan
Tanganmu pun ikut terbuka
Dikala engkau sujud dihadapan-Nya
Dan melantunkan doa demi anakmu tercinta
Ibu . .
Sungguh kehangatan pelukmu
Melelehkan setiap kaku sifatku
Senyuman lebar dari bibirmu
Redakan ambisi dan tangisanku
Tumpahan air matamu
Kobarkan pilu dalam hatiku
Ibu . .
Teruntukmu dari buah hatimu
Sungguh aku ingin memelukmu
Mencium keningmu
Bersujud dihadapanmu
Dan berkata . . .
“ Maafkan segala salah dan khilafku “
“ Sungguh aku menyayangimu “
Kau tak Akan Tergantikan Ibu
Pagi tergantikan siang
Siang dijemput sang malam
Malam kembali berganti pagi
Dan Kau Ibu . . .
Masih tetap disini
Menemani diri ini
Dikala hangat mentari menyapa
Kau bangukanku dengan sejuta cinta
Saat terik siang memanggang
Hingga keringat terlihat
Kau usap dan ucap seribu nasihat
Diwaktu malam bertabur bintang
Dinginnya tiada pernah kurasa
Karena kau memelukku bacakan sebuah cerita
Mengantarkanku menuju mimpi indahku
Ibu . .
Tiada pernah kau berkeluh kesah
Meski terkladang kulihat pipimu membasah
Sungguh tak akan rela kulihat kau terluka
Apalagi sengsara meratap dalam nestapa
Sungguh aku ingin kau bahagia didunia
Dan hidup abadi disurga
Tak akan pernah aku buatmu kecewa
Kan kulantukan seribu doa hanya untukmu
Wanita terhebat dalam hidupku
Itulah beberapa puisi yang saya persembahkan untuk semua ibu yang ada didunia ini. Tiada kata yang bisa mewakili segala jasa yang telah diberikannya namun semoga sedikit dari saya dapat membuat para pembaca menyadari betapa berharganya seorang ibu dalam kehidupan kita.
" Tak akan
bisa terhitung apa yang tlah seorang Ibu lakukan untuk anaknya namun
imbalan yang diminta seorang ibu atas apa yang telah dia berikan pada
ankanya dalah 0 "
===========================================================================Jika
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk
teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak
Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan
komentar. Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah
dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Bergabunglah dengan fans pages fb " Kehidupan Tanpa Batas ", follow juga ya . . hihihi ..
By : Dhedi R Ghazali
Label:
Puisi Kehidupan
Teruntukmu Ibu Bidadari Hidupku
Dhedi R Ghazali | Wednesday, December 18, 2013 | 0
komentar
Seberapa seringkah kita mebuat ibu kita kecewa dan menitikan air mata ?? Sungguh Ibu adalah bidadari yang sebenarnya dalam kehidupan kita. Ini adalah sebuah puisi teruntuk semua Ibu yang ada didunia ini, sungguh sosok seorang ibu tak akan pernah terlupakan dan akan selalu menjadi kenangan meski banyak pula Ibu yang telah meninggalkan ankanya karena telah habis waktunya didunia.Semoga puisi ini dapat dibaca oleh mereka yang seringkali melupakan ibunya, agar mereka dapat kembali mengingat betapa berharganya seorang ibu dalam kehidupan ini. Dan sungguh Ibu adalah harta yang tidak pernah ternilai harganya.
Teruntukmu Ibu
Bidadriku yang tlah melahirkanku
Yang selalu menitikan airmata kala aku terluka
Dan lalu membelai rambutku dengan tulus kasihmu
Teruntukmu Ibu
Sang bidadari yang tiada letih
Memberikan jutaan nasihat
Sejuta semangat dengan cucuran keringat
Teruntukmu Ibu
Sang bidadari tanpa sayap
Yang mampu mebawaku terbang
Melintasi kehidupan dengan penuh kasih sayang
Teruntukmu Ibu
Bidadari kehidupannku
Begitu banyak arti yang kau tunjukkan
Namun sedikit yang tlah bisa aku berikan
Tapi tak pernah surutkan kepedulian yang slalu kau berikan
Teruntukmu Ibu
Dari aku anakmu . . .
Termaafku untukmu
Atas segala khilafku
Segala laku yang menjatuhkan air matamu
Segala luka yang membuat sesak didada
Dan semua yang tlah membuatmu kecewa
Tak akan aku ulangi semua ..
Sungguh hanya kau bidadariku
Yang slalu melengkapi kehidupanku
Hingga kelak kau menjadi bidadari surgaku
Menemaniku menikmati indahnya surga itu
Kita tidak akan pernah bisa memabalas semua yang telah ibu berkan kepada kita. Dan saya yakin seorang Ibu tidak akan pernah meminta imbalan apapun atas segala yang telah dia lakukan untuk anaknya. Itulah Ibu yang telah melahirkan kita dengan mempertaruhkan hidupnya. Namun, Apa yang telah kita lakukan. Terkadang kita membuat Beliau kecewa dan terluka. Marilah kita senantiasa untuk selalu meninggikan derajat ibu kita, jadikan dia ratu dalam kehidupan kita.
" Tak akan bisa terhitung apa yang tlah seorang Ibu lakukan untuk anaknya namun imbalan yang diminta seorang ibu atas apa yang telah dia berikan pada ankanya dalah 0 "
Baca Juga Puisi : Hanya Untukmu Ibu
===========================================================================Jika Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk
teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak
Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan
komentar. Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah
dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Bergabunglah dengan fans pages fb " Kehidupan Tanpa Batas ", follow juga ya . . hihihi ..
By : Dhedi R Ghazali
Label:
Puisi,
Puisi Kehidupan
Subscribe to:
Posts (Atom)














