Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Rahim Kata Dari Dalam Penjara

Dhedi R Ghazali | Sunday, October 29, 2017 | 0 komentar

Sumber Gambar: detik.com
Kali ini bukan puisi yang ingin kutuliskan. Hanya sebatas omong-melompong, barangkali--mungkin saja bisa menjadi pasti--seperti gonggongan tanpa anjing atau selayak desir angin menyibak daun-daun yang sedang berfotosintesis. Ya, tulisan ini akan mengganggu siapa saja pembacanya. Maka dari itu, mantapkan niat untuk membacanya terlebih dahulu agar tidak kecewa. Helai napas panjang... bismillah...

Terkadang, rasa bosan untuk berpuisi datang begitu saja. Boleh dibilang seperti rasa kantuk yang mungkin saja akan segera dan tiba-tiba datang bahkan sebelum kuselesaikan tulisan ini. Semoga saja tidak. Aamiin

Malam ini, lebih tepatnya dini hari ini, ada sesuatu mengusik kepalaku. Apa itu? Aku sendiri tak tahu. Tapi yakin akan keberadaannya. Inilah sebuah pertanyaan tak terjawab. Bukankah kadang pertanyaan tak bisa kita jawab?

Kalian tahu, bahwa saat ini aku sedang duduk dalam renung ditemani dinding yang dingin dan jeruji-jeruji yang menatap sinis penuh kebencian. Ada banyak mata terlelap di sana. Jiwa-jiwa tersingkir dari tengah kehidupan masyarakat dan keluarganya. Sebuah kesalahan--bisa jadi lebih--membuat jiwa-jiwa itu harus terkurung. Bagiku, tempat ini adalah tempat pengabdian, namun bagi mereka tempat ini adalah tempat pengasingan. Ya pengasingan.

Bagaimana rasanya diasingkan? Dijauhkan dari hiruk-pikuk kehidupan yang semakin menyesatkan? Dalam pengasingan ada renungan. Dalam renungan terdapat kekuatan magis yang bisa membuat seseorang menjadi seratus bahkan seribu kali lipat lebih baik dari sebelumnya.

Ah! Dinding dan jeruji itu masih saja sekongkol untuk mengintimidasi pikiran dan hatiku. Keduanya berhasil membuat manusia ini keliyengan. Tapi tak apa. Mari kulanjutkan ceritaku.

Di tempat pengasingan ini lahir banyak peristiwa yang tak kalah memilukan dari kisah sinetron pertelevisian, tak kalah menakutkan dari film Counjuring, dan tak kalah menegangkan dari ending sebuah film percintaan yang diharapkan happy ending. Tempat ini adalah tempat terindah bagi malaikat-malaikat yang saban malam mencari tangis para hamba atas segala dosa-dosanya. Kalian tahu apa nama tempat ini?

Kusebut ia PENJARA. Ya, ini adalah penajara. Sebuah tempat yang dikait-kaitkan dengan kekerasan, narkoba, suap-menyuap dan juga tempat para pendosa mendekam. Bulsyitlah! Kau, aku dan semua manusia adalah pendosa. Adakah manusia yang hidupnya tanpa dosa? Jadi berhentilah mengatai orang lain sebagai pendosa. Sebab kita juga pendosa.

Hufh... setan di kepalaku mulai tersenyum atas kegilaanku malam ini. Baiklah. Biarkan mereka tersenyum dulu. Nanti akan kucambuk juga dengan cemeti amalirosuli yang terkenal di film Mak Lampir itu. Pernah membayangkan kehidupan di penjara?

Di penjara ini ada banyak waktu untuk merenungkan kehidupan. Di penjara adalah waktu pas untuk merefresh pikiran dari kebejatan kehidupan di luar sana. Itulah salah satu jawaban yang kutemukan dari salah satu manusia yang sering disebut sebagai sampah masyarakat. Demi Allah, tak semua yang masuk di tempat ini adalah sampah masyarakat. Bahkan bisa jadi mereka jauh dan sangat jauh lebih baik dari seonggok sampah. Di sini, sebagian besar dari mereka salat wajib lima waktu dengan berjamaah. Subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan isya. Mari kita tanya pada diri kita, sudah genapkah salat wajib kita? Sudahkah kelimanya kita lakukan dengan berjamaah? Plakkk!!! Bahkan aku harus menampar pipiku sendiri karena kekalahan telakku atas mereka yang dicap sebagai sampah masyarakat. Di penjara ini, tak sedikit yang bangun di tengah malam untuk salat tahajud dan membaca Al-Quran. Setiap malam pasti ada. Adakah dari kita yang sering melakukan hal yang sama? Aku yakin ada, namun sedikit jumlahnya.

Ah! Setan di kepalaku mulai merah wajahnya. Nampaknya mereka mulai marah padaku. Apa peduliku? Marah saja! Hahahaha!

Ada tangis penyesalan, ada pula tangis haru saat bertemu keluarga yang tak lagi bisa setiap hari bertemu. Tangis seorang ibu yang menjenguk anaknya yang tersangkut kasus penusukan "selangkangan". Ada pula tangis seorang istri yang suaminya adalah penjudi. Tangis seorang anak yang tahu bapaknya adalah pencuri. Ada rasa haru, malu, marah yang bercampur dan membuat lukisan abstrak di wajah berkerut. Bahkan sampai aku tak bisa mengerti apa arti luksian itu. Di sini banyak kulit yang berubah fungsi menjadi tempat menuangkan seni. Dan... ada cinta dari Illahi yang tak bisa dilogika oleh otak seorang Profesor sekalipun.

Suatu ketika, kutanya salah satu dari penghuni tempat ini. "Kau sedih atau senang masuk sini?" Mari kutuliskan jawabannya, "Aku senang masuk sini. Sebab di sini Allah sangat mencintaiku. Dia mengirimku ke tempat indah ini agar bisa lebih dekat dengan-Nya. Agar tak semakin terjerumus dalam dosa-dosa. Agar, tak lagi membebani orang tua dengan segala tinglah-laku yang membuat mereka dikucilkan di tengah masyarakat. Betapa Allah sangat mencintaiku, bukan? Jika Dia tak mencintaiku, Dia akan membiarkanku bergelimpangan dosa di luar sana. Demi Allah di dalam sini kutemukan keajaiban. Tak pernah salat kutegakkan sebelumnya, tak jua bisa membaca serentetan huruf arab. Tapi, di sini aku belajar dan bisa melakukannya."

Sekali lagi pada akhirnya aku tertampar oleh kata-kata orang yang umurnya jauh lebih mud. Ya, dia baru berumur 20 tahun. Dan diumurnya itu, banyak tersimpan repihan masa-lalu yang diubahnya menjadi tiang-tiang perubahan. Tiang-tiang yang akan menajadi penopang hidupnya kelak setelah keluar dan menghirup udara bebas.

Apa kabar setan di kepalaku? Ah, mereka mulai sekarat nampaknya. Maafkan aku, sebab kali ini dan aku harap bisa seterusnya, kepalaku ini tak lagi bisa kalian jadikan tempat berpesta.

Kurasa akan sangat banyak jika kutuliskan semua yang ada di dalam penjara ini. Lain kali, akan kuceritakan yang lebih seru lagi.

Tulisan ini hanyalah awal sebuah mimpiku untuk membuat buku berjudul "Rahim Kata Dari Dalam Penjara". Semoga bisa lekas terealisasikan.

Salam santunnku.

Tulisan di atas saya ambil dari tulisan saya sendiri di Fanspage Blog ini: https://www.facebook.com/kehidupantanpabatas/posts/763820517091252


Kehidupan Tanpa Batas

Cerpen Dhedi R Ghazali: Sebotol Napas untuk Kekasihku

Dhedi R Ghazali | Tuesday, October 24, 2017 | 0 komentar

Picture: pixabay.com

Tiara sayang. Tiara yang berwajah manis dan terang. Aku tidak sedang ingin mengirimimu sebatang coklat berpita merah jambu. Aku juga tidak sedang ingin memberimu sekuntum bunga berwarna merah hati. Surat ini juga bukan surat cinta berisi kata-kata yang lugu dan sendu. Tak ada juga aroma parfum Perancis dan gambar dua tanda tanya yang bertangkupan. Aku menulis surat ini di saat malam sudah hamil tua, di tengah kesepian dan taburan bintang-bintang yang berwarna-warni di altar langit yang hitam keabu-abuan. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi, tapi aku tak peduli. Bahkan dingin yang menyesap tulang-tulangku terasa menenangkan dan menghangatkan.

Tiara yang cantik dan akan selalu cantik. Bersama ini kusertakan beberapa helai nafasku yang terengah dan detak jantungku yang menggantung di dinding-dinding sebuah botol kaca yang bening. Kusertakan pula sepasang kunang-kunang yang cahayanya berwarna merah saga. Biar saat malam tiba, ia berkerlap-kerlip di sudut kamarmu. Agar tak lagi ada kegelapan yang membuatmu ketakutan. “Brangkali cahaya kunang-kunang itu bisa menjadi pengganti lampu tidurmu,” pikirku saat itu.

Tiara yang manis, akan kuceritakan bagaimana aku bisa memasukkan helai napas dan detak jantung di botol kaca itu. Suatu hari, di tengah gerimis yang tipis dan angin yang menelusup di daun-daun, aku duduk di sebuah bangku di bawah cahaya kuning lampu kota. Tiba-tiba aku teringat namamu. Kutuliskan sebuah puisi di sebuah kertas yang setiap hari kubawa. Kata demi kata seperti mengalir begitu saja. Kata yang penuh kerinduan. Kata yang penuh keheningan, yang dingin dan beku. Lembar demi lembar kertas terisi dengan loncatan huruf-huruf yang satu dengan yang lain mencari pasangannya masing-masing. Huruf-huruf itu kawin dan mulai beranak pinak. Membuat suatu koloni yang membentuk deretan kata dan deretan kata membentuk baris-baris dan bait-bait. Dalam beberapa menit saja ratusan huruf dan puluhan bait sudah terlahir. Bagaimana jika satu jam? Satu hari?

Aku tak peduli dengan gerimis. Tintaku tak akan luntur jika hanya terkena gerimis. Hingga pada akhirnya, sebelum sempat puisi itu selesai, hujan deras menghunjam dengan penuh kesombongan. Tintaku tak diciptakan untuk melawan hujan. Kau tahu apa yang terjadi? Puisi-puisi yang hampir jadi itu tak hanya luntur. Hujan membuatnya menjadi seperti bubur hingga tak ada satu hurufpun yang tersisa. Maafkan aku, sebab aku tak sempat menyimpannya kembali di dalam tasku.

Nafasku mulai terengah menahan marah. Detak jantungku berdegup kencang. Aku tak pernah mengerti kenapa nafas ini seperti sedang kehilangan sesuatu. Bukankah hanya sebuah puisi yang hilang? Ah. Tidak, Tiara! Yang kutulis bukan sekadar puisi. Puisi tak cukup untuk bisa menyampaikan kata-kata yang tak sempat kutuliskan dan kubacakan padamu. Puisi tak akan pernah bisa mewakili kata hati dan juga ketulusan serta keikhlasan. Tidak semua orang suka puisi dan tidak semua orang mau membacanya. Mungkin bisa jadi kau adalah salah satu dari yang banyak itu. Aku tak akan memaksamu untuk suka dengan puisi. Aku juga tak akan membiarkan puisi memaksamu untuk bisa jatuh cinta padaku. Biarkanlah cinta itu datang melewati jalan yang memang sudah ditentukan. Jalan yang mungkin saja terjal dan penuh kerikil tajam. Aku tak tahu. Sebab yang ada dipikiran manusia hanyalah kemungkinan-kemungkinan.

Dari kejauhan, kulihat seorang lelaki dengan baju compang-camping mendekat ke arahku. Dari penampilan yang seperti itu, aku menebak dia adalah orang gila. Tapi benar kata orang, jangan lihat seseorang dari penampilan luarnya saja. Tiara, ternyata meski dia tampak gila nyatanya dia tak gila seperti yang kukira.

Bahkan lebih waras dariku. “Masukkan nafas-nafasmu di botol ini!” Tangannya yang dekil itu menyodorkan sebuah botol yang terbuat dari kaca. Aku sempat berpikir lagi bahwa lelaki ini gila. Bagaimana mungkin kumasukkan helai nafas-nafasku di botol ini? Untuk apa juga memasukkannya?

“Helai nafasmu lebih bisa mengungkapkan segalanya daripada kata-kata yang makna dan artinya bisa berubah di setiap kepala yang berbeda. Kata-kata bisa berdusta, tapi helai nafas tak akan pernah mau berdusta,” orang yang kukira gila ini mulai menceramahiku.

Ia lantas pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang. Aku yang masih marah dengan nafas terengah, kembali sendirian. Kau harus percaya ini Tiara. Botol itu menyedot setiap nafasku yang berjejalan keluar dari hidung dan mulut. Kulihat mereka menempel di dinding-dinding botol itu. Aku bahkan bisa mendengar desir suaranya membacakan puisi yang kubuat untukmu. Apakah aku sudah gila Tiara?

Lampu kota itupun tiba-tiba bisa berbicara padaku. Ternyata ia tak seperti yang kuduga. Cahanya yang kekuningan penuh ketenangan, tak seperti nada bicaranya yang penuh ketegasan.

"Dekatkan botol itu padaku. Biarkan kumasukkan seberkas cahayaku ke dalamnya. Biar nafasmu tak cemas di dalam kegelapan dan tak pula kedinginan," ucap lampu kota itu.

Aku pun lantas mendekatkan botol itu. Tiba-tiba kerlap kerlip cahaya masuk ke dalamnya. Seperti puluhan kunang-kunang yang memamerkan keindahannya. Indah Tiara. Sangat indah.

Hujan pun reda. Lampu kota itu diam saat kutanya, "Harus kuapakan botol ini?"

Aku pun mulai mengingat-ngingat apa yang baru saja terjadi. Semakin kucoba mengingatnya, malam semakin putih saja. Subuh yang muram pun datang. Aku bergegas menyambutnya yang sudah menungguku di sebuah surau di sudut kota ini.

Yogya, 2017


Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar serta like fans page kehidupan tanpa batas.  Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Barangsiapa yang memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yang melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)




Kehidupan Tanpa Batas

MARSINAH

Dhedi R Ghazali | Sunday, October 22, 2017 | 1komentar

Sumber: arahjuang.com


Siapa namamu?

Nama saya Marsinah, Tuan. Seorang buruh pabrik arloji. Saya bekerja dari pagi hingga petang. Meskipun kerja di pembuatan arloji, rasanya seperti waktu berputar begitu lambat. Kadang pulang sampai petang untuk lembur. Tapi sayang, uang lembur tak seberapa. Meski demikian, saya bersyukur karena masih bisa makan.

Apakah kau sedang mengeluh dengan keadaanmu?

Bukan hanya saya. Tapi teman-teman buruh lain pun sejatinya mengeluh. Seperti kata Sapardi di puisinya, “Kami ini tak banyak kehendak, sekadar hidup layak, sebutir nasi.” Namun ternyata rasa lapar tak cukup untuk bisa membuat teman-teman saya berteriak menuntut kelayakan. Mereka lebih takut ketika Bos Pabrik mengancam memecat jika terlalu menuntut ini-itu. Padahal kami hanya ingin mendapat gaji yang pantas. Pantas sesuai dengan waktu yang terampas. Maksud saya berbicara seperti ini adalah ingin mengatakan bahwa derita kami sudah naik seleher, ditindas sampai di luar batas.

Kau ternyata pandai bicara. Kata-katamu itu membuatku merinding.

Maaf, Tuan. Tapi itu bukan kata-kata saya. Saya hanya mengutipnya dari seorang penyair kerempeng yang cacat mata sebelahnya. Kalau tidak salah namanya Wijhi Thukul. Lagipula, buruh seperti saya ini mana bisa berbicara yang nyastra. Yang ada hanya berbicara dengan hati. Mengutarakan kegelisahan yang berasal dari perut lalu mengalir ke kepala hingga meluber lewat mulut. Kami kadang berpikir, setidaknya bisa menjadi sesuatu yang berarti dan sesudah itu mati.

Kali ini kau mengutip kata-kata Chairil Anwar? 

Benar, Tuan. Dia adalah penyair yang saya kagumi. Saya ini buta huruf. Kata-kata itu saya dengar dari radio. Katanya, si Binatang Jalang itu akan jadi pahlawan dalam dunia sastra.
Kau ingin jadi Pahlawan juga?

Ah, Tuan ini pandai bercanda. Buruh seperti saya memang mau jadi pahlawan apa? Pahlawan pergerakan demonstran? Yang ada hanya akan diburu. Dikejar sampai liang lahat oleh aparat. Lagipula—kali ini saya kutip perkataan Galileo—“Tak berbahagialah negeri yang memerlukan pahlawan.” Seseorang bisa disebut Pahlawan dan dikenang setelah ia meninggal lalu mayatnya dikubur di taman makam Pahlawan. Sedangkan saya? Bahkan sering gelisah karena takut mayat saya tak pernah diketemukan oleh sanak-saudara. Membusuk begitu saja dengan tanah kembali ke Illah. Lagipula, saya lebih suka dikenang lewat puisi Sapardi. Betul kata dia, dan barangkali sama dengan apa yang ada di pikiran, Tuan, bahwa saya suka merebus kata hingga mendidih lalu menguap ke mana-mana.

Lalu, sekarang kau sedang berada di mana, surga atau neraka?

Tuan ini apakah malaikat? Kalau iya, jangan usir saya ke dunia lagi. Saya tak tahu apakah ini surga atau neraka. Yang saya tahu hanya bahwa dunia di luar sana adalah neraka bagi saya. Di sana pula saya disekap, diikat di kursi, diacak-acak selangkangannya, dan dipukul dengan besi batangan.
(Tuan itu ternyata malaikat. Malaikat yang tak suka banyak berkata tapi lebih suka banyak bertanya)

Kalau begitu, ayo ikut aku. Kita pergi dari tempat ini!

Memang hendak ke mana, Tuan?

Surga...

Yogya, 2017

Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar serta like fans page kehidupan tanpa batas.  Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
Kehidupan Tanpa Batas

Tentang Novel "Rembulan Tenggelam di Wajahmu"

Dhedi R Ghazali | Saturday, September 05, 2015 | 0 komentar


Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Mungkin bagi para penikmat novel khususnya ciptaan Tere Liye, judul di atas tidaklah asing lagi. "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" adalah salah satu judul novel ciptaan penulis muda satu ini.
Novel tersebut bagi saya adalah salah satu novel yang memberikan efek "boombastis". Kenapa dan bagaimana bisa? Banyak hal yang saya dapatkan dari novel ini, selain gaya bahasa yang menarik bahkan boleh dibilang puitis, novel ini juga menawarkan ruang renung yang luar biasa bagi pembacanya.

Awal mula saya membaca novel ini adalah berawal dari ketidaksengajaan yang mungkin saja ketidaksengajaan itu erat hubungannya dengan isi yang disampaikan dalam novel buatan Tere Liye tersebut. 

Pada suatu ketika, jiwa dan batin saya sedang dalam keadaan yang kacau balau. Permasalahan bermunculan menghampiri tanpa jeda hingga membuat manusia bodoh ini acapkali menyalahkan keadaan yang sedang terjadi. Singkatnya, untuk menghilangkan penat itu saya putuskan berjalan-jalan di salah satu toko buku di Yogyakarta. Sebenarnya maksud awal datang ke toko itu bukanlah untuk membeli buku, hanya sekadar ingin berjalan-jalan saja. Di salah satu rak buku dimana kumpulan novel Tere Liye dipajang, mata ini langsung tertuju pada buku dengan sampul berwarna merah menyala yang berjudul "Rembulan Tenggelam di Wajahmu". Terlanjur tertarik, akhirnya saya lihat sampul bagian belakang dan membaca sinopsis yang ada. Entah kenapa, tiba-tiba saja ada terdengar bisikan mengatakan "Belilah dan bacalah! Kau akan menyukainya". Memang selama ini salah satu hobi saya adalah membaca novel, jadi tanpa pikir panjang akhirnya saya putuskan untuk membeli novel tersebut.

Sesampainya di rumah, novel itu tidak langsung saya baca. Malam hari sekitar pukul 11 malam, karena belum bisa tidur sebab kepenatan yang masih saja menghantui akhirnya saya membacanya. Satu lembar, dua lembar, terlihat isi novel biasa-biasa saja. Anehnya, hati ini seolah memaksa untuk tetap melanjutkan membaca. Lembar demi lembar terbuka, setiap lembar menyuguhkan rangkaian kata dan cerita yang begitu menarik. Ya, begitu menarik karena apa yang diceritakan ternyata tidak jauh beda dengan apa yang sedang saya rasakan. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang ada di otak manusia selama menjalani kehidupan. Pertanyaan tentang hidup dan kehidupan itu sendiri, tentang keadilan dan kekuasaan Tuhan serta tentang sebuah kesempatan. Dengan waktu 2 jam novel ini selesai saya baca.

Setelah selesai membacanya, batin mulai bergejolak. Mungkin saja ini adalah cara Tuhan untuk menjawab pertanyaan yang ada di benak selama ini. Jawaban dari Tuhan yang akhirnya saya temukan lewat perantara novel berjudul "Rembulan Tenggelam di Wajahmu". Ya, seperti halnya Rey(tokoh utama dalam novel) yang diberi kesempatan untuk bertanya 5 pertanyaan dan diberikan 5 jawaban, setidaknya seperti itulah yang sedang terjadi pada saya sewaktu membaca novel ini.

Lalu apa yang istimewa? Dari cerita di atas, ada hal yang sangat bermakna yang saya dapatkan. Ternyata memang Tuhan mempunyai banyak cara yang tak terduga untuk menjawab keluh kesah umatnya. Itulah yang penting. Selama ini kita acapkali menyalahkan keadaan yang berujung kepada pikiran bahwa Tuhan tidak adil. Dimanakah Tuhan saat kita dalam kesulitan? Saat batin dan jiwa dilanda kepenatan, atau saat permasalahan demi permasalah menghampiri hidup? Seharusnya pertanyaan itu tidak layak untuk muncul di benak manusia, sebab satu hal yang pasti bahwa Tuhan tidak akan pernah mendzalimi umatnya. Seharusnya manusialah yang dituntut untuk "peka" terhadap keadilan dan kasih sayang Sang Pencipta. Rembulan yang tenggelam di wajah manusia bukanlah karena-Nya, namun karena perbuatan manusia itu sendiri. Tak seharusnya rembulan itu tenggelam di wajah jika saja kita mampu menikmati betapa indahnya rembulan itu dengan mata kita, bukan justru dengan menundukkan wajah. Ingatlah bahwa apa yang terjadi memanglah sudah digariskan oleh-Nya, tapi semua akan tetap berdasar hukum sebab-akibat. Sesuatu yang terjadi bukanlah tanpa sebab dan setiap sebab pastilah akan menimbulkan akibat, dan yang perlu kita tahu adalah bahwa akibat tidak selalu negatif, tinggal bagaimana kita menyikapinya.


Gubuk, 2015
Kehidupan Tanpa Batas

Surga yang Hilang

Dhedi R Ghazali | Wednesday, August 26, 2015 | 0 komentar




Di balik jendela aku menatap hujan yang tak kunjung reda. Meratap, bersama sebelah sayap yang patah yang sejatinya ingin kugunakan untuk terbang menuju surga-Nya. Tepat di depan jendela dari tempatku duduk, terbentang jalan utama kota ini. Nuansa malam yang begitu indah, lampu kendaraan yang berkilauan sebab jatuhnya jutaan rintik air yang menerpanya. Malam ini, setahun sudah surgaku menghilang dan tak akan kembali pulang. Surga yang selama ini kusiakan dan bahkan tak kusadari keberadaanya yang begitu dekat.


//
Jauh sudah langkah kaki
Berjalan menelusuri laut, hutan, dan gurun
Hingga yang di pelupuk mata menghilang
Sesal kemudian mencari jalan pulang
Terlambat!!!
Terlambat sudah
Tanah kini telah membawanya kembali ke muasal
Menuju tempat
Yang berada di bawah telapak kakinya
//

Aku adalah termasuk salah satu pengusaha muda yang sukses. Menjadi manajer sebuah perusahaan asing di umur yang baru menginjak angka duapuluh tujuh tahun tentunya sudah mampu menjadi tolok ukur kesuksesannku. Sebagai seorang muslim, tentu limpahan rizki dari-Nya membuatku lebih mudah untuk melaksanakan kewajiban bersedekah. Setiap bulan kusisihkan lima persen penghasilan untuk kemaslahatan umat. Bersedekah adalah sebuah keharusan, karena bagiku itu adalah salah satu cara yang tepat untuk mensyukuri nikmat yang kudapatkan sekaligus untuk ‘membeli’ surga-Nya. Dua kali sudah ibadah haji kulaksanakan, dengan pekerjaan dan penghasilan yang sekarang ini, bahkan untuk berhaji setiap satu tahun sekalipun bukanlah hal yang mustahil.

Saat ini aku tinggal di kota Jakarta. Sebuah kota yang penuh dengan kemegahan sekaligus juga penuh godaan. Di kota inilah semua cerita bermula. Tepat lima tahun yang lalu, berbekal dengan ijazah S1, kucoba mengadu nasib di kota metropolitan ini. Awalnya ibuku tak mengizinkannya, sebab ayahku telah meninggal sejak aku masih kecil. Jika aku pergi merantau ke Jakarta, maka ibu hanya tinggal dengan dua adikku yang masih duduk di bangku SMA. Tapi, tekadku sudahlah bulat, aku ingin menjadi orang yang sukses dan mengangkat derajat ibu dan adik-adikku. Ternyata Allah mendengar segala doa yang kupanjatkan setiap sepertiga malam selepas salat tahajud. Di kota inilah rizki yang telah dpersiapkan-Nya diturunkan. Tidak butuh waktu lama, hanya dalam jangka 3 tahun aku sudah mampu menjadi manajer di sebuah perusahaan asing ternama. 

Setiap bulan, aku rutin mengirimkan uang ke kampung halaman untuk kebutuhan ibu dan kedua adikku. Kesibukan bekerja membuatku tidak bisa pulang ke kampung halaman selama lima tahun terakhir. Hanya lewat telepon aku bisa berkomunikasi dan bertukar kabar dengan ibuku. 

****

Malam itu, aku sedang ada ‘meeting’ dengan salah satu ‘klien’. Sebuah tander yang besar sedang coba kuraih. Jika bisa kumenangkan tander ini, bonus ratusan juta bahkan miliaran rupiah bisa didapatkan. Di tengah-tengah ‘meeting’, telepon genggamku berdering. Kulihat ternyata ada pesan masuk dari ibu.

“Nak, jangan lupa salat!”

Setelah kubaca, kembali kuletakkan telepon genggamku di meja tanpa kubalas pesan ibu. Aku tak ingin ‘klienku’ terganggu sebab kutinggal untuk membalas pesan dari ibu. 

Tak lama kemudian, kembali telepon genggamku berdering. Kali ini sebuah panggilan masuk. Kulihat layar telepon genggam, ternyata ibu yang menghubungi. Kutolak panggilan itu. Tak selang beberapa lama kemudian, lagi-lagi telepon gengamku berdering, dan masih juga panggilan dari ibu. Kulihat ‘klienku’ mulai tidak nyaman dengan panggilan tersebut. Benar saja, beberapa saat kemudian, ‘klien’ tersebut mengingatkan, “Maaf, Pak, ini tander besar, bukan main-main. Saya harap Bapak mematikan telepon gengamnya dulu agar ‘meeting’ ini bisa berjalan dengan lancar!” 

“Iya, Pak. Maaf atas ketidaknyamanan ini.”

Langsung saja kumatikan telepon genggamku. Pikiran dan hati mulai bergejolak, rasa kesal menyelimuti. Kesal terhadap ibu sendiri yang menggangu pekerjaanku hari ini.
‘Meeting’ akhirnya telah selesai. Sebuah keputusan pahit harus diterima, ternyata aku tak bisa memenangkan tander. Kekecewaan yang sangat besar kurasakan. 

“Ini gara-gara Ibu!!!”

Hatiku kian berkecamuk. Dengan langkah yang malas kutinggalkan tempat ‘meeting’. Selepas keluar dari tempat meeting tersebut, kuambil telepon genggamku lalu kunyalakan. Lekas kuhubungi ibu, “Assalamualikum, Nak”

“Waalaikumsalam, tadi kenapa Ibu menghubungi?”

“Ibu kangen, Nak!”

“Tahu tidak!!! Gara-gara Ibu menghubungi tadi, semua pekerjaanku jadi kacau balau. Lain kali jangan menghubungi lagi kalau aku tidak menghubungi Ibu terlebih dahulu!” Bentakku dengan nada yang keras sekligus langsung kututup telepon.

Kekesalan masih menyelimuti pikiran. Setelah peristiwa itu, Ibu tak pernah menghubungi lagi. Sesekali rasa bersalah menghinggapi sebab aku telah membentak ibu kandungku sendiri. Tapi saat itu, memang dia yang salah sehingga aku tak bisa memenangkan tander miliaran rupiah. Jika saja bisa memenangkan tander tersebut, aku bisa mewujudkan salah satu cita-cita yaitu mendirikan Yayasan Yatim Piatu. Dengan begitu, aku akan mampu menambah amalan dan bekal untuk meraih surga-Nya. Sebagai seorang muslim, tentu menambah amalan dan bekal untuk menuju akhirat adalah menjadi prioritas utama dalam menjalani kehidupan ini.

***

Sebulan sudah berlalu sejak peristiwa itu. Aku masih saja menyesal karena tidak bisa memenangkan tander. Di sepertiga malam, kulaksanakan salat tahajud dilanjutkan dengan memohon kepada-Nya agar diberi kesempatan lagi untuk bisa mendapatkan tander yang serupa. Selama ini aku rutin melaksanakan saat tahajud dan salat duha. Sebuah ibadah yang sejak masih sekolah selalu kulakukan.
Pagi ini aku bersiap untuk menuju kantor. Pikiran terasa tidak fokus, entah apa yang membutanya terasa melayang, yang jelas aku benar-benar merasa hampa.
Tiba-tiba saja telepon genggamku berdering. Ternyata panggilan masuk dari adik pertamaku bernama Zahra.
“Assalamualikum, Mas.”
“Waaliakumsallam, ada apa, Ra? Tumben pagi-pagi gini hubungi, Mas?”
“Ibu sakit, Mas. Dia minta kamu buat pulang ke kampung!”
“Aku sedang sibuk, Ra. Bawa aja ibu ke rumah sakit. Nanti Mas kirimkan uang untuk biayanya.”
“Tapi, Mas ….”
“Sudah, tak perlu tapi tapi. Mas mau berangkat kerja dulu. Assalamualikum!”
Aku bergegas menuju kantor, hari ini adalah hari Jum’at. Seperti biasanya, di hari seperti ini sebelum kegiatan kantor dimulai, semua karyawan berkumpul untuk mengikuti pengajian. Hal ini tentu sangat penting demi menjaga akhlak sekaligus kejujuran serta sebagai motivasi kepada para karyawan agar dapat bekerja dengan ikhlas dan jujur.
Sesampainya di kantor, terlihat sudah banyak karyawan yang berkumpul. Pengajian pun sudah akan dimulai. Ada yang berbeda dari pengajian hari ini, terlihat laki-laki setengah baya menggendong seorang nenek-nenek. Dia berjalan menuju ke dalam Masjid. Ternyata dia adalah Ustadz yang akan mengisi pengajian hari ini. Lalu siapa nenek-nenek yang digendongnya itu? Kenapa untuk mengisi pengajian dia repot-repot menggendong seorang nenek-nenek? Ah, sudahlah. Lebih baik aku masuk ke dalam saja, siapa tahu nanti Ustadz tersebut mengenalkan diri sekaligus mengenalkan siapa nenek-nenek di gendongannya itu.
Pengajian pun dimulai. Ustadz tersebut mulai ceramahnya. Betapa kagetnya seisi ruangan ketika Beliau memperkenalkan siapa yang bersamanya dan digendong olehnya tadi. Ternyata nenek-nenek itu adalah ibu kandungnya.
“Ini adalah ibu saya. Setiap mengisi pengajian di manapun, saya selalu membawa serta Beliau. Sudah tiga tahun terakhir Beliau menderita stroke, sebab itulah saya harus menggendongnya.”
Semua karyawan di dalam Masjid terdiam dan hanyut dalam nuansa yang entah. Termasuk aku, entah kenapa tiba-tiba saja hati ini berkecamuk dan bergetar begitu kencangnya.
Ustadz tersebut mulai menuju materi yang ingin disampaikannya. Sebuah materi yang penuh dengan makna. Sebuah materi yang menyadarkan bahwa aku telah membuat kesalahan yang sangat fatal.

//

Akar yang Tak Pernah Menyalahkan Tanah Gersang

Akar adalah sebuah komponen penting dalam tumbuhan. Dialah yang senantiasa mencari makan agar tumbuhan tersebut dapat subur dan menghasilkan buah-buah yang bagus. Meskipun di kemarau panjang sekalipun, dan tanah-tanah mulai gersang, akar tidak akan berhenti berusaha untuk mencari makan agar pohon berbuah. Dia tidak pernah menyalahkan kemarau, pun juga tidak pernah berkeluh-kesah dan menyudutkan tanah yang gersang. Baginya, mau musim hujan, musim kemarau, tanah subur ataupun tanah gersang, dia akan harus senantiasa menjadi penopang agar buah-buah dapat tumbuh di pohon.

Akar itu adalah Ibu kita, buah di pohon adalah kita dan tanah gersang adalah kerasnya kehidupan. Sekeras apapun kehidupan, seorang Ibu akan senatiasa berusaha sekuat tenaga untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang sukses! Sukses dunia akhirat tentunya. Yang perlu kita ketahui, meskipun akar tak pernah terlihat tapi dia tetap akan selalu memberikan yang terbaik agar pohon-pohon berbuah. Itulah keikhlasan seorang Ibu, dia tak akan menampakkan apa yang telah dilakukan untuk anaknya dan tak akan mengharap imbalan. Dari kecil sampai kita dewasa, Ibulah yang berperan penting dalam kesuksesan yang kita raih saat ini.
Bahkan kita sering mendengar, bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Itulah sebabnya, kenapa saya selalu membawa serta Ibu saya dalam setiap mengisi pengajian. Saya tidak ingin sedetik waktupun jauh dari surga. Meskipun harus dengan menggendong Beliau, tapi ituah bentuk kasih sayang dan rasa hormat sekaligus cara saya untuk meraih surga yang sejatinya selalu ada di dekat kita. 

Saat ini,banyak anak yang acapkali melupakan Ibunya. Dengan kesuksesan yang didapat, seolah semua dapat dimiliki. Sedekah, salat, bahkan baca Al-Qur’an rutin demi untuk meraih surga, tapi mereka lupa bahwa ada surga di dekatnya!!! Bahwa ada surga yang selama ini senantiasa menunggu untuk dijamah, surga itu adalah Ibu kita!!!

//

Tiba-tiba saja bulir-bulir di mata mulai berjatuhan. Diri ini mendapat tamparan yang sangat keras dari apa yang disampaikan oleh Ustadz tersebut. Aku teringat saat membentak Ibu di dalam telepon, saat kusalahkan Ibu karena menelponku waktu ‘meeting’. Memang benar aku tak pernah lupa mengirim uang untuk Beliau, tapi tak pernah sekalipun aku berkunjung untuk sekadar meminta maaf di Hari Raya ataupun untuk sekadar mencium tangan yang selama ini menggendong dan membelai tubuh mungilku dulu. Aku benar-benar larut dalam renungan yang dalam. Air mata tak hentinya membasahi pipi. Tekadku kini sudah bulat, setelah pengajian ini aku akan mengajukan cuti untuk kembali ke kampung halaman, untuk bersimpuh di hadapan surga yang selama ini kuabaikan. 

Sore itu, selepas pulang kerja, aku bergegas pulang ke kampung halaman. Di sepanjang jalan, air mata ini masih saja mengalir tiada henti teringat akan kedurhakaan yang telah diperbuat. Aku merasa menjadi orang yang paling hina, segala ibadah yang kulakukan, naik haji, sedekah, salat tahajud, salat duha dan juga ibadah wajib terasa sia-sia dan percuma sebab aku telah mendurhakai ibuku seniri. Aku sibuk mencari jalan untuk menuju surga, sedangkan surga itu selama ini ada di depan pelupuk mata. Begitu larutnya dalam penyesalan, sampai-sampai tak sadar bahwa berkali-kali telepon genggamku berdering. Kuambil teepon genggam, terlihat sepuluh kali panggilan tak terjawab dari adikku. Lalu kuletakkan kembali telepon genggam tersebut, karena rasanya tak perlu kutelpon balik sebab sebentar lagi aku juga sudah sampai di rumah.

Sepuluh menit kemudian, akhirnya laju mobilku berhenti di depan rumah yang selama ini menjadi tempat bernaungku bersama ibu dan kedua adikku. Terlihat ada yang berbeda, meski sudah jam sepuluh malam, tapi terlihat banyak orang berkerumun di depan rumah. 

Aku lantas turun dari mobil, terlihat beberapa sanak saudara menghampiri dan menggandeng tanganku sambil berkata “Sabar, ya, Za. Ini sudah menjadi takdir Allah.”

Aku semakin bingung dengan perkataan saudaraku tersebut. Sesampainya di depan pintu rumah, terihat kedua adikku bersimpuh serambi menangis sekencang-kencangnya. Di depan mereka terlihat tubuh yang sudah terbungkus kain kaffan. Kakiku melemah, dadaku berdebar hebat, air mataku tumpah. Kulihat wajah Ibuku, mata dan hidungnya tertutup kapas. Tubunya kaku!!!

“Ibu ….!!!”

Kedua kakiku kini benar-benar tak lagi mampu menopang tubuh. Tubuh ini tersungkur tepat di depan jenazah ibu. Air mataku pecah membelah keheningan di dalam dada. Kupanggil-panggil ibuku berulangkali sembari kugoyang-goyangkan tubuhnya yang sudah kaku.

“Bangun, Bu!!! Bangun!!! Ini aku, anakmu. Anakmu sudah pulang, Bu. Bukankah Ibu kangen dengan aku? Bukankah kemarin Ibu ingin aku untuk pulang? Bangun, Bu! Bangun!!!”

Tak henti-hentinya kugoyangkan tububuh ibu, sesekali kuciumi wajanya yang layu. Kedua adikku menghampiri dan memeluk tubuhku erat-erat,
“Sabar, Mas.” Dengan sesenggukan mereka mencoba menegarkanku.

Tapi apa daya, yang ada justru kami bertiga bersimpuh di depan jenazah Ibu, tangis kami semakin menjadi. Aku benar-benar terpukul. Merasa benar-benar menjadi anak yang durhaka, tidak bisa mendampingi Bidadari yang melahirkan dan mendidikku di saat-saat terakhirnya. Bahkan justru sempat kusalahkan dia dan membentaknya dengan kata-kata yang tidak seharusnya dia dapatkan dari anak kandungnya sendiri.

Beberapa bulan terakhir ini ternyata Ibu mengidap sakit kanker. Dia tidak pernah bercerita kepadaku karena tak ingin menggangu pekerjaanku. Waktu dia menelpon dan berkata kangen denganku, dan ingin anaknya pulang ke kampung, saat itu pula dia telah merasa bahwa waktunya hidup di dunia sudah mulai habis. Dia ingin menghabiskan waktu itu denganku, anaknya yang sejak lima tahun terakhir tidak pernah ada di sampingnya. Selama itu pula dia tidak pernah protes sama sekali. Bahkan, setiap uang yang kukirimkan selalu dia sisihkan sebagian. Untuk apa? Untuk membantu menggapai cita-citaku yaitu mendirikan Yayasan Yatim Piatu. Ya, begitu besar kasih-sayangnya selama ini, meski lima tahun anaknya tak pernah menemuinya, dia masih saja berusaha untuk membantu anaknya menggapai cita-cita. Selayak akar yang terus berjuang di tanah yang gersang agar buah tetap tumbuh di pohonnya.

***

Hujan di luar sana masih saja belum reda. Aku masih menatap ke luar jendela. Kali ini, hujan tak hanya turun di luar jendela, tapi juga di dalam jendela tepatnya di mataku sendiri. Sebuah penyesalan terdalam membuat air mata ini tak tertahankan. Aku kehilangan surgaku sesaat setelah aku baru saja menyadari bahwa surga itu tepat berada di depanku, surga itu adalah Ibu. Kini, surga itu benar-benar telah hilang. Selama ini aku berjalan bermil-mil jauhnya untuk mencari surga itu, namun justru ternyata aku mengabaikan surga yang sudah jelas ada di depan mata. Ya, sebelah sayapku telah patah. Masih bisakah aku terbang dengan hanya sebelah sayap untuk menemui surgaku yang telah berada di dalam surga-Nya?

Air mataku jatuh di atas kertas yang sedari tadi kugunakan untuk menuliskan apa yang ingin kusampaikan kepada ibuku di atas sana. Sebuah tulisan yang berisi luapan penyesalan.

//
Surga yang Hilang
Jauh sudah langkah kaki
Berjalan menelusuri laut, hutan, dan gurun
Hingga yang di pelupuk mata menghilang
Sesal kemudian mencari jalan pulang
Terlambat!!!
Terlambat sudah
Tanah kini telah membawanya kembali ke muasal
Menuju tempat
Yang berada di bawah telapak kakinya
Surgaku hilang
Saat aku masih saja berada di depan pintunya
Tanpa pernah kuketuk dan mencoba memasukinya
Surgaku yang hilang
Bersama bidadari yang kuabaikan
Hingga sesal tertuliskan
Di kokohnya batu nisan
Surgaku yang hilang
Akankah aku dapat menemukannya?
Dengan satu sayap yang tersisa?
//


GubukAksara, 15
Kehidupan Tanpa Batas
 
Support : Copyright © Nov 2010. Kehidupan Tanpa Batas - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger