Home » , » Kesalahan Pola Pikir Mahasiswa

Kesalahan Pola Pikir Mahasiswa

Dhedi R Ghazali | Saturday, January 04, 2014 | 2komentar
Kesalahan Pola Pikir Mahasiswa
Pendidikan adalah hal yang saat ini menjadi penting bagi setiap orang. Dengan pendidikan diharapkan sesorang akan mudah mendapatkan pekerjaan dan mengangkat derajat keluarganya. Minimal bisa lebih baik dari kehidupan kedua orang tuanya. Tak sedikit orang tua yang menyekolahkan anaknya sampai jenjang yang tinggi. Dikuliahkan di perguruan favorit dengan biaya yang tidak sedikit. Dan kita tahu setiap orang tua menginginkan agar kehidupan anaknya kedepan tidak suram. Namun bukan itu yang ingin saya bahas. Kali ini saya ingin membahas tentang fenomena yang ada dalam dunia pendidikan. Pembahasan ini berdasarkan pengalaman saya selama menempuh pendidikan sampai akhirnya mendapatkan gelar sarjana saya. Ada fenomena yang menarik yang selama ini menggelitik dibenak saya. Fenomena apa itu ???

Fenomena itu adalah selama ini para pelajar ataupun mahasiswa kebanyakan berorentasi pada “ nilai “. Mereka bersaing untuk menjadi yang terbaik didalam kelasnya dengan mendapatkan nilai-nilai sempurna disetiap mata pelajaran ataupun mata kuliah yang diajarkan didalamnya. Nilai terbaik seolah menjadi tujuan utama dalam pendidikan yang kita jalani. Dari sini pula saya sering melihat kecenderungan sifat egois pada mereka. Kenapa saya katakan egois ?? Pernah suatu saat saya tidak bisa mengerjakan tugas  dalam salah satu mata kuliah yang sedang saya tempuh. Karena sudah mentok, saya mencoba bertanya pada teman yang saya anggap bisa karena nilai dia selalu diatas nilai saya. Namun apa yang terjadi ?? Dia menjawab “ maaf saya juga tidak bisa “. Beberapa hari kemudian saya terkejut kareba Waktu itu dia mampu mengerjakan tugas tersebut dengan benar dan mendapatkan nilai yang tertinggi. Pernahkah Anda mengalami hal tersebut ?? Inilah yang saya sebut egois, terkadang daam persaingan mendapatkan nilai tertinggi setiap orang selalu enggan untuk membagi ilmunya karena takut akan tersaingi oleh orang lain. Lantas, Apakah menurut Anda dengan mendapatkan nilai tertinggi disetiap mata kuliah atau mata pelajaran sudah membuat kita yakin akan suskes dalam menjalani kehidupan setelah kita lulus ???. Oke, setiap orang tua pasti akan bangga ketika anaknya menjadi lulusan terbaik dengan nilai yang memuaskan. Namun tak sadarkah Anda, ketika selama mengenyam pendidikan orientasi kita hanya pada nilai tinggi saat itu juga kita hanya ibarat robot yang diciptakan untuk mendapat nilai tinggi dan hanya fokus pada nilai tersebut. Kita hanya akan belajar untuk mendapat nilai tertinggi, belajar hanya sekedar apa yang ada dalam kurikulum saja. Ketika itu yang terjadi kita hanya akan tumbuh menjadi orang yang “ penurut “ bukan orang yang “ Kreatif “. Seoarang penurut hanya akan menurut pada sebuah perintah ataupun aturan akan tetapi ketika tidak ada perintah atau aturan orang tersebut tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sedangkan orang kreatif akan senantiasa selalu berfikir dan mengembangkan apa yang ada dalam dirinya untuk tetap melakukan sesuat demi kesuksesan didalam hidupnya.

Berikut ini saya kutip beberapa kalimat pidato yang disampaikan oleh Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini.
Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Dari pidato diatas dapat kita lihat bahwa selama ini dia terjerumus dalam sistem indoktrinasi yang pada akhirnya yang dia dapatkan hanyalah sebuah kertas yang mensertifikasi bahwa dia sudah mampu bekerja ( Ijazah ). Selama ini yang dia pelajari hanyalah belajar untuk mendapatkan nilai tinggi dalam setiap mata pelajaran dan akhirnya dia lulus dengan nilai terbaik. Namun dia merasa ketakutan ??? Kenapa demikian. Selama ini dia hanya belajar dan belajar untuk menjadi lulusan terbaik. Dia hanya berfokus pada Hard Skill saja. Setiap mata pelajaran dia kuasai namun dia lupa bahwa terbaik dalam nilai itu hal yang berbeda dengan terbaik dalam hidup. Maksudnya adalah nilai yang tinggi tidak akan menjamin seseorang untuk bisa meraih kesusksesan dalam hidup ini. Karena Apa ?? Untuk sukses dalam hidup tidak cukup hanya bermodal ijazah dengan nilai yang tinggi dan juga dengan kepandaian yang luar biasa. Kita tidak boleh lupa bahwa kehidupan dunia nyata memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Ketika seseorang dengan Hard Skill yang bagus namun tidak mempunyai Soft Skill yang bagus pula maka orang tersebut belum tentu akan mampu meraih sebuah kesuksesan.

Selama ini saya melihat banyak mahasiswa yang terjebak dalam periode indoktrinasi sehingga yang ada dalam pikiran mereka hanyalah belajar dan belajar, kuliah dan kuliah untuk meraih nilai tertinggi dengan cara apapun. Rajin mengerjakan tugas dengan nilai yang memuaskan. Memang setiap Mahasiswa harus mendapat nilai tinggi dalam mata kuliahnya. Dan memang seharusnya seperti itu, itu bukan hal yang salah ketika menginginkan IPK tinggi pada akhirnya mereka lulus dengan predikat cum-loude. Namun ketika kuliah kita hanya diisi dengan hal tersebut tanpa pernah mencoba untuk bergabung dengan organisasi kemahasiswaan, himpunan mahasiswa, UKM dll maka kita tidak akan mendapatkan Soft Skill yang akan sangat kita butuhkan ketika terjun dalam dunia kerja. Dan faktanya juga saya melihat banyak Mahasiswa yang selama kuliah IPK nya tinggi justru sampai saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan. Namun justru banyak mahasiswa yang dengan IPK nya pas-pasan akan tetapi dia aktif dalam organisasi dan kegiatan kampusnya sudah mendapat pekerjaan bahkan tak sedikit pula sukses dengan membuka usaha sendiri.
Untuk itu bagi Anda yang masih menempuh pendidikan perlulah Anda pahami bahwa untuk hidup di dunia nyata seorang  tidak bisa hanya berbekal nilai tertinggi, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis. Oleh karena itu, mulai saat ini marilah mencoba untuk mengembangkan soft skill kita dengan cara mengikuti kegiatan kampus ataupun organisani didalamnya agar kita dapat mendapatkan keahlian lain didalam diri kita dan mampu mengembangkannya untuk bekal menghadapi dunia nyata setelah kita lulus nanti. 

===========================================================================
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar.  Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 
“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)

Bergabunglah dengan fans pages fb " Kehidupan Tanpa Batas ", follow juga ya . . hihihi .. 
  
By : Dhedi R Ghazali



Share this article :
Kehidupan Tanpa Batas

2 komentar:

jagooweb said...

hmmm....kurang setuju dech kayaknya. Pemahaman seperti ini tidak bagus umat islam harus kuat, pintar & kaya. Klo seperti itu terus ini yg bikin umat islam kalah trs. Harus nya klo IPK jelek belajar lbh giat biar nilai bagus walau harus mengulang jgn cuma "nerimo".

Dhedi R Ghazali said...

Terimakasih komentnya. Didalam artikel saya tersebut saya tidak bilang harus nerimo. Pintar, kaya dan IPK tinggi saya setuju. Tapi yang perlu diingat kurikulum dipendidikan kita banyak yang rasanya aneh dan kurang bermutu apalagi kalau dipandang dari segi agama islam. Selain itu yang pengen saya sampaikan sebenarnya adalah untuk sukses itu tidak cukup hanya dengan nilai akademis tinggi. Dalam dunia kerja soft skill juga sangat penting. Nilai akademis tinggi memang tidak salah, palah harus akan tetapi tidak akan berpengaruh besar tanpa diikuti soft skill yang baik. Seperti sopan santun, cara berkomunikasi, berinteraksi dll.
Nice comment. Thanks

Post a Comment

 
Support : Copyright © Nov 2010. Kehidupan Tanpa Batas - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger